KEGAGALAN Bupati Batusangkar, Sadiq Pasadique menjadi calon Gubernur Sumatera Barat di Pilgub Sumbar periode 2015-2020 rasanya masih menarik untuk dikaji, dibahas dan direnungkan, terutama bagi timses dan tim relawanya. Kenapa? Karena Sadiq Pasadique termasuk salah seorang putra terbaik Sumatera Barat, yang sebelumnya disebut-sebut dan diperkirakan bakal berhasil meraih jabatan gubernur tersebut.

Tapi apa mau dikataka, keinginan dan keseriusan Sadiq Pasadique untuk melanjutkan pengabdiannya kepada Ranah Minang, nusa dan bangsa, kandas alias tersingkir karena tak mendapatkan kendaraan partai yang merupakan syarat mutlak untuk mendaftar di KPU Sumbar. Padahal sebelumnya, timses dan tim relawannya sangat yakin dan percaya kalau Sadiq Pasadique bakal berangkat dengan kereta api cepat malam. 

Rasanya sangat wajar dan syah-syah saja, jika timses dan tim relawan akan berkata sangat disayangkan. Kenapa? Karena harapan dan impian Sadiq Pasadique dan timses, serta tim relawan terpaksa gigit jari sembari menggosok-gosok dada, dengan pikiran yang galau dan risau. Pemicunya, karena  lobi-lobi politik yang telah dirancang dan diperjuangkan Sadiq Pasadique dengan tak kenal lelah dan berjuang dengan semangat yang membara, akhirnya kandas disaat injuri time dengan alasan yang tak logis dan masuk diakal.

Setelah pasangan Irwan Praytino dan Nasrul Abit yang diuusung PKS dan Gerindra, Senin, 27 Juli 2015, disusul pada hari berikutnya oleh pasangan Muslim Kasim dan Fauzi Bahar yang diusung, PAN, Nasdem, PDI-P dan Hanura. 

Pada saat injuri time atau batas akhir pendaftaran di KPU Sumbar, Selasa, 28 Juli 2015 tersebut masih ada Patai Demokrat, Partai Golkar, Partai Persatruan Pembangunan (PPP), PKB dan PBB yang masih bisa mengusung calon gubernur dan wakil gubernur.

Partai Golkar yang lagi bersiteru di DPP, memang telah islah dengan komitmen menandatangani bakal calon berdua, yakni Yan Hiksas kubu Agung Laksono dan Irwan Hendra Rahim kubu Aburizal Bakri yang akrap disapa Ical. 

Yang mengagetkan, waktu pendaftaran pasangan MK-FB, yang terlihat hanya Irwan Hendra Rahim, sehingga Partai Golkar Sumbar tak memenuhi persyaratan ikut mengusung kandidat, karena tak dihadiri Yan Hiksas dari kubu Agung Laksono..

Begitu juga dengan Partai Demokrat yang tak ikut memberikan dukungannya untuk mengusung pasangan MK-FB, termasuk PPP Sumbar yang waktu pendaftaran dinilai KPU juga tak memenuhi persyaratan untuk mengusung kandidat.

Dari bisik-nisik petinggi partai, waktu itu ada komitmen dan kesepakatan Partai Demokrat akan mengusung Sadiq Pasadique yang akan berpasangan dengan Syamsu Rahim dengan syarat PPP, PKB dan PBB ikut mengusung. Namun, komitmen Sadiq Pasadique dengan Partai Demokrat yang sudah klop, Senin, 27 Juli malam, jadi buyar karena PPP Sumbar konon kabarnya, mementahkan lobi-lobi politik atau komitmen-komitmen yang telah terjadi antara Sadiq Pasadique dengan petinggi PPP Sumbar. 

Ada cerita yang mengerikan kenapa PPP Sumbar melumerkan perjanjian dengan Sadiq Pasadique?. Konon kabarnya ada dugaan PPP Sumbar mendapat rayuan dengan janji kepeng-kepeng. Intinya, komitmen yang disyinyalir dilakukan petinggi PPP Sumbar, agar membatalkan pernjanjian dengan Sadiq Pasadique. Yang hebatnya, keberadaan petinggi PPP Sumbar di Pulau Jawa, dijemput oleh salah seorang timses yang membuat perjanjian di Bandara Internasional Sukarno Hatta. Faktanya memang, akhirnya PPP Sumbar acuh tak acuh di saat injuri time.

Kini lantas timbul pertanyaan. Apakah mungkin Sadiq Pasadique yang telah dikecewakan dan disakiti, serta dihancurkan harapan dan impiannya akan memberikan dukungannya?. Jawabannya mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang. (Penulis waratwan Tabloid Bijak).  

google+

linkedin