KADANGKALA, saya tak habis pikir juga dengan kebijakan Ketua KONI Sumbar, DR Syahrial Bakhtiar --- yang tak lama lagi bakal menyandang gelar profesor----, dengan mendatangkan pelatih asing berkebangsaan Australia, yang belum jelas juga reputasinya di kancah olahraga dunia, dalam hal melahirkan atlet berprestasi nasional dan  internasional.

Sekedar ingin tahu, saya sengaja pula bertanya ke Inyiak Geogle, tentang latar belakang Robert hon Balack, yang diputus kontrak negara tentangga Malaysia, karena dinilai gagal mencapai target di SEA Game. Namun, upaya saya bertanya ke Inyiak geogle tak menemukan apa yang saya inginkan. 

Jujur, saya yang pernah juga meliput pertandingan sekelas SEA Game dan Asian Game dulu, juga tak pernah pula mendengar nama dan reputasi seorang pelatih bule yang bernama Robert John Balard.  

Tapi kalau penjelasan Ketum KONI Sumbar, DR Syahrial Bakhtiar, saya ada mendapatkan masukan dan informasi. Kata Syahrial Bakhtiar, Robert John Balard punya sikap intelektual dalam melatih atlet. Kemudian, sebagai pelatih Michel Jhon Balack membuatkan laporan secara tertulis, teliti dan akurat. Yang lebih menariknya Michel Jhon Balack itu, punya disiplin yang tinggi dan mampu bekerja 12 jam setiap hari. 

KINI, terlepas dari kehebatan seorang pelatih bule tersebut, versi Ketum KONI Sumbar, DR Syahrial Bakhtiar, saya tak melihat apa-apa tentang kehebatannya itu, terutama tentang keberhasilannya melahir atlet yang punya reputasi dunia. Bisa saja, leteratur saya yang kurang lengkap atau penilian saya yang telmi.

Jujur, setahu saya memanfaatkan seorang pelatih asing, hanya untuk menangani tim seperti kesebelasan sepakbola, atau percabang olahraga, seperti olahraga tinju, atau cabang olahraga lainnya. 

Jadi, cukup aneh juga kalau seorang pelatih yang bernama Robert John Balard disuruh melatih, membina seluruh atlet PON Sumbar yang sebelum dikurangi mencapai 407 atlet dan katanya telah dikurangi menjadi 310 atlet.

Kehebatan seseorang menurut saya, dari segi akademisi, bisa dilihat dan diukur dari gelar akademisnya, karya ilmiahnya berupa buku atau hasil penelitiannya. Kalau dari cabang olahraga, bisa dilihat dari latarbelakangnya, apa sebelum menjadi pelatih merupakan atlet yang punya reputasi dua, seperti pernah meraih medali emas di olimpiade. 

Khusus Jhon Balack, katanya peraih medali perak olimpiade di cabang atletik. Jika fakta ibu benar, sebaiknya Jhon Balack hanya ditugaskan menangani atlet atletik, sesuai dengan latar belakangnya. Soalnya cabang atletik termasuk cabang olahraga yang diharapkan menuai prestasi emas di PON Jawa Barat, September 2016 mendatang. 

Jika John Balard ditugaskan melatih cabang lain, seperti senam, apakah John Balard mampu memperagakan atau mencontohkan senam ritmik yang sebenarnya. Atau apakah Jhon Balack tahu cara memainkan jurus silat yang benar, termasuk cabang tinju, apakah John Balard tahu cara memukul KO lawan dengan benar, termasuk cabang olahraga lainnya.

Jika kehadiran John Balard hanya untuk memotivasi atlet, apakah dia itu pakar psikologi?. Jika tidak,  tahu apa Jhon Balack dengan kepribadian atlet secara mental atau semangat juang atlet.

Yang perlu dipertanyakan lagi, apakah agama John Balard Islam. Jika agamanya kristen, jelas ada hal-hal yang tak pas dalam melakukan konseling terhadap atlet yang mayaritas bergama Islam. Kalau hanya masalah sugesti, iming-iming bonus dan janji memperkerjakan atlet sebagai PNS bagi yang memperoleh medali emas PON Jabar, jauh lebih berpengaruh dari sugesti dengan memanfaatkan kata dan kalimat.

JUJUR juga, saya sependapat dengan komentar anggota dewan Hidayat yang merasa tersinggung KONI Sumbar mempergunakan pelatih asing dengan bayaran Rp 80 juta perbulan belum termasuk transfortasi dan akomodasi, serta keperluan lainnya. Kenapa saya pun ikut tersinggung? Karena pelatih kita hanya dihargai satu atau dua juta dan pemberian uang bonusnya pun sering terlambat, seakan-akan pelatih kita mengemis untuk medapatkan honor atau bunus tersebut.

Khusus tentang displin, pelatih yang punya latar belakang tentara, juga punya kedisplinan tinggi. Kalau hanya dilihat dari sikap displin, silahkan saja KONI Sumbar bekerjasama dengan Danrem 032 Wirabraja. Tujuannya, agar Danrem 032 Wirabraja bersedia menyediakan  diklat tentara sebagai pusat latihan (pelatda) atlet Sumbar yang disiapkan ke PON Jawa Barat. Rasanya, Danrem 032 WIrabraja punya perwira jasrem, yang punya kemampuan membina dan melatih atlet.

Jika dasar pemikirannya, laporan setiap hari tentang kondisi atlet, rasanya KONI Sumbar bisa menginstruksikan pelatih dengan melibatkan asisten pelatih untuk setiap hari melaporkan hasil dari latihan atlet selama di pelatda. Kemudian, dalam persoalan psikologi, rasanya di Sumbar banyak pakar olahraga dan pakar psikologi, seperti Gubernur Sumbar, Prof DR Irwan Prayitno Psi Msc, yang telah banyak menulis buku tentang psikologi.

JADI, apapun alasan Ketua KONI Sumbar, DR Syahrial Bahktiar memakai pelatih asing dengan bayaran Rp 80 juta plus tersebut, kurang pas dengan kondisi Sumatera Barat, sebagai daerah yang cukup terkenal dan populer dengan melahirkan pemikir untuk kemajuan nagara tercinta ini. Kemudian, ada anekdot tentang prilaku orang Minang. "Orang Minang itu di rantau hanya bodohnya satu hari dan hari berikutnya, orang  yang memberikan ilmu itu pula yang dijulnya." Maksudnya, apakah pelatih kita di SUmbar tak mampu "mencuri" ilmu Jhon Balack? Kemudian, apakah tak ada pakar olahraga di UNP yang punya reputasi sama atau melebihi John Balard? Selanjutnya, apakah memakai pelatih asing ini, tak melecehkan pelatih di Ranah Minang atau pakar olahraga di UNP? Semua jawabannya ada sama Ketua KONI Sumbar, DR Syahrial Bahktiar.

KINI, suka atau tak suka, mau atau tak mau, Ketua KONI Sumbar, DR Syahrial Bakhtiar harus bertemu khusus dengan Gubernur Sumbar, Prof H Irwan Prayitno Psi Msc untuk membicarakan persiapan dan evaluasi atlet yang akan membela nama baik Ranah Minang di PON Jawa Barat. Semoga!!!. (Penulis wartawan tabloid bijak dan padangpos.com).

google+

linkedin