JUJUR, saya pun tak tahu pasti, pada abad keberapa tradisi makan bersama sesama anak nagari yang populer dengan istilah Balanjuang di Nagari Pauhlimo tersebut. Tapi yang jelas, acara balanjuang sudah merupakan kegiatan dikala malam, sesama anak nagari. Bahkan, acara balanjuang, salah satu cara untuk memperkokoh silaturrahmi dan bermanffat untuk menjaring dan memfilter calon pemimpin yang layak dan pantas jadi pemimpin.
Pada tahun 70-an, saya termasuk anak nagari Pauhlimo yang paling hoby belanjuang, dan boleh dikatakan hampir setiap malam minggu saya mengajak ninik mamak untuk belanjuang, bersama-sama anak nagari lainnya.
Kemudian, ketika saya sempat menjadi Ketua Forum Anak Nagari Pauhlimo, 2013 lalu, acara belanjuang saya jadikan program kegitan rutin, setiap Sabtu atau Malam Minggu. Kenapa saya jadikan program rutin? Karena hanya melalui acara belanjuanglah, bisa mengumpulkan anak nagari untuk membahas dan membicarakan nagari. Bahkan, selain acara balanjuang, saya juga mengajak anak nagri Pauhlimo untuk menyaksikan randai dan silat Pauhlimo. Tujuannya waktu itu, agar semua anak nagari yang peduli tanah leluhurnya, diajak untuk melestarikan nilai budaya dan kesenian tradisional.
Tapi sayangnya, persoalan limbah PT Semen Padang menjadi pemicu perpecahan sesama anak nagari, yang sengaja "diadu domba" oleh oknum karyawan PT Semen Padang yang juga berkeinginan keciprak rezeki dari limbah PT Semen Padang tersebut, berupa besi dan barang-barang berharga lainnya. Singkat cerita saya mengundurkan diri sebagai ketua FKAN Pauhlimo dan kemudian terjadi perang golok di Pauhlimo. (Lihat di yuotobe perang golok anak Nagari Pauhlimo).
Ada beberapa hal yang bisa diambil hikmahnya dari acara balanjuang, yang punya makna dan cerita sesama anak nagari.
Yang pertama, sebelum acara balanjuang dimulai, sudah ada pembagian tugas sesama anak nagari, seperti siapa anak nagari yang bertanggungjawab mencari menu balanjuang. Bisa saja meunya itu berupa ikan Batang Kuranji, ikan garing dan bisa juga belut sawah ditambah dengan ayam. Menu belanjuang dilengkapi dengan jariang atau kentang.
Yang kedua, ada pula anak nagari yang bertugas membersihkan ikan atau menu belanjuang lainnya. Yang ketiga, memasak, baik menu balanjuang atau pun nasi.
Yang kelima, ada pula yang bertugas mencari daun pisang dan sekaligus menyiapkan meja yang dijejerkan berbaris sesua dengan kebutuhan atau peserta balanjuang. Untuk apa daun pisang? Daun pisang digunakan untuk alas menu makanan dan nasi yang ditabur memanjang diatas meja yang sudah beralasan daun pisang. Khusus nasi ditabur ditengah-tengah alas daun pisang dan kiri kanannya ditabur menu ikan, belut atau menu lainnya sesuai kebutuhan.\
Kemudian, makan acara belanjuang ala Pauhlimo, makanya berdiri dan berjejer dan saling berhadapan dan bisa juga duduk, tergantung ketersedian sarana kursi.
Selanjutnya, setiap peserta belanjuang, tak boleh mengambil menu dan nasi, selain yang tersedia didepannya. Jika ada teman disampingnya melihat, nasi dan menu diahadapan menipis atau sudah habis, maka secara spontas rekan-rekan yang saling berhadapan tersebut membagikannya.
Secara kasat mata bisa diterjemahkan, pribadi atau prilaku seseorang bisa dibaca dan diamati dengan caranya waktu ikut makan balanjuang. Bagi yang tamak dan serakah, selain matanya liar melirik kekiri dan kekanan, juga dengan spontan mengambil menu nasi atau menu ikan dan belut dari sebelah kiri atau kanannya.
Kemudian, bisa juga diterjemahkan secara psikologis, cara peserta menyuap nasi dan menu sambalnya. Bagi yang congok alias rakus, makannya cepat dan suapnya besar dan kencang, seakan-akan ingin melahap atau melumat semua makanan dihadapannya.
Ada juga anak nagari yang makan dengan santai dan menyuap nasi ala kadarnya dan setiap mau menyuap, berkelakar atau pun berceloteh. Bisa saja para anak nagari tersebut, makan menu balanjuang sambil ngerumpi dan bercerita yang lain.
Intinya dari acara belanjuang, bisa diambil hikmahnya, untuk mempelajari sikap mental anak nagari dalam berkelompok dan bermusyawarah melalui acara makan balanjuang. Yang jelas, acara balanjuang untuk memperkuat hubungan ukhwah Islamiyah sesama anak nagari, yang bertujuan menfilter calon pemimpin dari anak nagari. (Penulis wartawan tabloid bijak dan padangpos.com)


