BIJAJ ONLINE (PAINAN)-Bupati Hendrajoni merespon serius pengaduan masyarakat Nagari Taluak Tigo Sakato Kecamatan Batangkapas, Pesisir Selatan soal perambahan hutan lindung di kenagarian itu.

Bahkan, bupati juga telah bekoordinasi langsung dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK-RI).

"Beliau kemarin (Senin, 19 Maret 2018-red) sudah telpon," ungkap Anggota DPRD Pesisir Selatan, Syafril Saputra usai mendampingi sejumlah tokoh dan masyarakat Nagari Taluak Sakato di rumah dinas bupati, Senin malam (19/3).

Selain dirinya, dalam pertemuan itu juga hadir Camat Batangkapas, Zoni Eldo, Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN), Jefri Dt. Rajo Gamuyang dan sejumlah tokoh dan masyarakat nagari Taluak Tigo Sakato.

Seperti disampaikan bupati, lanjutnya, pemerintah daerah menginginkan pihak KLHK menurunkan tim ke lokasi guna mengecek langsung perambahan hutan.

Selain itu, menurut politisi Partai Golkar itu, dirinya juga telah membawa persoalan tersebut ke tingkat parlemen.

Bahkan, telah menyampaikannya pada tingkat pimpinan dewan. Sebab, selama ini ia menilai penegakan hukum terkesan lamban.

"Warga juga sudah menyampaikannya ke pengelola Taman Nasional Kerinci Seblat. Alasan mereka nggak punya anggaran dan penyidik PPNS," tutupnya.

Masyarakat Nagari Taluak Tigo Sakato resah dengan aktifitas pembukaan lahan baru di kawasan hutan lindung itu.

Parahnya, kegiatan tersebut melibatkan sejumlah oknum dengan merambah puluhan hektar hutan tanpa batas.

Mantan Wali Nagari Taluak Tigo Sakato, Efriadi mengatakan, perambahan hutan yang dilakukan itu terlihat dengan banyaknya penebangan kayu secara liar.

Bahakn, membuka lahan perkebunan untuk kepentingan usaha pribadi. Selain itu, dampaknya membuat punah kelestarian cagar alam yang tersimpan.

“Jika perambahan ini terus dilakukan, masyarakat Nagari Taluak Tigo Sakato khawatir akan berisiko banjir dan tanah longsor. Lokasi tempat perambahan itu juga merupakan SDA yang kami miliki di nagari ini," ungkapnya.

Dia menyebutkan, aktifitas perambahan hutan di kawasan tersebut sudah terjadi sejak akhir 2017 lalu.

Sampai saat ini, belasan hektar hutan sudah dirambah dan menjadi lahan perkebunan siap tanam serta gundul akibat keserakahan oknum tersebut.

"Sekitar 15 hektar yang sudah habis ditebang dan sudah siap pakai. Ada sekitar 30 hektar lagi yang sudah mereka tandai untuk dibabat," tutupnya. (Teddy Setiawan)

google+

linkedin