BIJAK ONLINE (Padang)-TIDAK akan ada orang Islam yang membantah jika dikatakan bahwa Nabi Muhammad itu diutus untuk semua manusia, karena pandangan ini ditegaskan secara eksplisit dalam Al-qur’an bahwa Tuhan tidak mengutus Muhammad kecuali ia menjadi rahmat (menabur kasih) bagi sekalian alam.

Berbanding lurus dengan domain misi itu, maka persoalan yang paling utama dan pertama kali direstorasi Muhammad adalah menghentikan dan menghapuskan eksploitasi manusia terhadap manusia lainnya. Tugas yang diemban itu tak ubahnya seperti sebuah misi kemanusiaan yang hampir mustahil untuk dilakukan, disparitas sosial yang telanjang di tengah masyarakat Arab kuno adalah kondisi obyektif yang terbentang di hadapan Muhammad. Manusia tersegmentasi ke dalam dua blok saja, budak dan majikan.

Misi kemanusiaan yang dilakukan Muhammad adalah sebuah misi dengan ‘logistik’ utamanya adalah ‘Rasa Kasih’ yang dalamnya tak terselami dan luasnya tak terukur, terhadap manusia. Perasaan kasih dan cinta kepada manusia itu, dikemudian hari diakui oleh para filosof, termasuk filosof Barat yang mengantarkan daratan Eropa menuju Zaman Pencerahan (enlightenment). Mereka mengakui terus terang, betapa dimensi kemanusiaan ajaran Islam yang dibawa Muhammad begitu besar.

Giovani Pico della Mirandola misalnya. Ia adalah filosof Barat yang dipandang menjadi salah seorang tokoh pemikir Humanis zaman Renaissance. Tanpa sungkan ia mengakui bahwa pandangan Humanisnya sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam, ia berkata:

“I have read in the records of the Arabians, reverends Fathers, that Abdala the Saracen, when questioned as to worthy of wonder, replied: ‘there is nothing to be seen more wonderful than man!” (Saya telah membaca dalam buku-buku orang Arab, wahai Bapak yang mulia, bahwa Abdala (Abdullah) orang Saracen (sebutan untuk Muslim zaman Perang Salib), ketika ditanya apa di atas panggung dunia ini yang paling agung dan mangagumkan, menjawab: “Tiada satupun dipandang lebih mengagumkan daripada manusia).

Jika pemikir seperti della Mirandola berterus terang menyatakan kekagumannya terhadap nilai-nilai Humanitas dalam Islam, maka tidak menutup kemungkinan tokoh pemikir lain semisal John Lock, Voltaire, Thomas Jefferson, JJ.Rousseau dan lainnya juga mendapat inspirasi, telah berinteraksi dan bahkan tercerahkan oleh ide-ide Kemanusiaan dalam Islam.

Pandangan yang menjunjung tinggi terhadap kemanusiaan yang menjadi misi utama Kenabian dalam Islam bersifat universal. Ia melintas batas ras, etnik, budaya, bahasa bahkan agama. Nabi Muhammad sangat menghargai perbedaan keyakinan, ia mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi alasan bagi manusia untuk saling membenci. Bahwa perbedaan keyakinan adalah satu hal, sementara menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilaiKemanusiaan adalah hal lain.
Atas dasar itulah Nabi Muhammad tidak pernah merasa keberatan untuk membuat MoU (Memorandum Of Understanding), ataupun perjanjian yang mengikat demi terciptanya sebuah relasi antar keyakinan yang bersifat co-existence.

Dalam konteks ini, kita teringat dengan sebuah momen yang dinukilkan oleh Syed Ameer Ali dalam karya klasiknya “The Spirit Of Islam: A History of The Evolution and Ideals Of Islam”. Dalam buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Api Islam” itu, Syed Ameer Ali memaparkan sebuah dokumen yang teramat penting menyangkut hubungan Nabi Muhammad dengan gereja St. Catherine, sebuah gereja yang terletak dekat gunung Sinai. Ketika itu Nabi Muhammad, para biarawan serta tokoh agama Kristen lainnya menyepakati dan membuat sebuah piagam yang ditanda tangani bersama dan disahkan sebagai monumen Toleransi Beragama paling berharga yang pernah ada di dunia. Pokok-pokok isi Piagam itu adalah:

1)Nabi Muhammad memberi jaminan rasa aman kepada orang-orang Kristen dan memberi kebebasan untuk menjalankan keyakinannya. Selain itu, mendeklarasikan bahwa setiap kekerasan dan penyimpangan yan dilakukan (kedua belah pihak) harus dipandang sebagai pelanggaran terhadap ajaran Tuhan, yang berarti juga telah menodai imannya.

2)Nabi dan para pengikutnya melindungi orang-orang Kristen, membentengi gereja mereka, juga mengamankan kediaman para pendeta serta menjaga mereka dari segala gangguan.

3)Kaum Kristiani tidak diwajibkan membayar pajak yang diberlakukan secara tidak adil. Tidak boleh ada Uskup yang diusir dari keuskupan, tidak boleh ada orang Kristen yang dipaksa keluar dari agamanya, tidak boleh ada rahib atau biarawan yang diusir dari lembaga kerahiban, tidak boleh ada orang Kristen yang dilarang berziarah ke tempat-tempat suci mereka, atau menjadikan mereka tawanan di tempat ziarah mereka.

4)Juga tidak dibolehkan meruntuhkan gereja atau rumah-rumah orang Kristen untuk dibangun di atasnya rumah bagi kaum muslim.

5)Wanita Kristen yag menikah dengan laki-laki Muslim dibiarkan menikmati keyakinan agamanya dan tidak boleh diganggu atau dipaksa (hingga ia jengkel) untuk masuk Islam.

6)Jika orang-orang Kristen meminta bantuan untuk memperbaiki gereja atau rumah mereka, maka kaum muslim harus membantu mereka dengan tanpa perhitungan, dengan tidak melihat agama atau keyakinan mereka, namun semata-mata karena mereka memang membutuhkan ulurn tangan.

Sepanjang butir-butir perjanjian yang disepkati itu, kita tidak melihat kecuali satu hal yaitu bahwa betapa Nabi Muhammad sangat mencintai Kemanusiaan, menghormati pluralitas keyakinan dan mengutamakan keharmonisan dalam relasi dan interaksi antar keyakinan. Dalam dimensi inilah kita menemukan sebuah realitas sosio-spiritual, bahwa Muhammad adalah Nabi bagi semua.
Dalam domain yang lebih luas, harus dikatakan bahwa kehadiran Muhammad tidak hanya menjadi subyek yang menabur kasih bagi semua manusia. Bahkan juga menjadi protektor dan rahmat bagi makhluk selain manusia.

Jauh sebelum orang-orang Eropa mengenal organisasi pencinta binatang, nabi Muhammad telah mengajarkan peri-kebinatangan kepada manusia dengan mengatakan:

“Apabila kalian mengendarai binatang, berikan haknya dan janganlah menjadi setan-setan terhadapnya” (al-Hadits)

“Seorang wanita dimasukkan Tuhan ke dalam neraka karena mengurung seekor kucing, tidak diberinya makan, dan juga tidak dilepaskan untuk mencari makan sendiri” (al-Hadits)

Namun sebaliknya beliau menegaskan:

“Seorang yang bergelimang dalam dosa diampuni Tuhan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan” (al-Hadits).

Kecintaan dan rasa kasih Nabi Muhammad yang melimpah ruah itu tidak hanya kepada makhluk yang bernyawa, melainkan juga kepada benda-benda mati yang ada di sekitarnya. Jauh sebelum munculnya kelompok-kelompok pencinta alam semacam ‘Greenpeace’ atau WALHI, manusia penuh kasih ini telah menganjurkan untuk hidup bersahabat dengan alam.

Ia menegskan bahwa Tuhan memudahkan alam untuk dikelola manusia (QS: 14:32). Pengelolaan itu disertai dengan pesan untuk tidak merusaknya, bahkan mengantarkan setiap bagian dari alam ini untuk mencapai tujuan penciptaannya. Itulah sebabnya ia melarang menjual buah yang masih mentah atau memetik bunga yang belum mekar, ia menegaskan:

“Biarkan semua bunga mekar, agar mata menikmati keindahannya dan lebah bersuka cita mengisap sarinya” (al-Hadits).

Cinta kasih yang dibawa Muhammad, bahkan menyentuh benda-benda tak bernyawa. Faktanya, Ia selalu memberi nama untuk benda-benda yang dimilikinya. Perisai yang dimilikinya ia beri nama “Dzat al-Fudhul”. Pedangnya dinamai “Dzulfiqar”. Sanggurdinya dinamai “al-Daj”. Tikarnya dinamai “al-Kuz”. Cerminnya dinamai “al-Midallah”. Gelasnya dinamai “al-Shadir”. Tongkatnya dinamai “al-Mamsyuk” dan lain sebagainya. Semunya diperlakukan penuh kasih dan diberi nama-nama nan indah dan penuh arti seakan-akan benda-benda tak bernyawa itu mempunyai kepribadian serta butuh kasih sayang, pemeliharaan, persahabatan dan belaian penuh ketulusan.

Itulah Nabi Muhammad, pribadi yang sering menjadi sasaran fitnah dan kesalahpahaman. Sosok sejati yang mesti menjadi parameter dalam membangun etika dan estetika relasi antar manusia. Ia adalah personifikasi dari karya tertinggi yang pernah dicapai manusia dalam hal ketinggian moral dan keagungan Kepribadian.

Dalam momentum Maulid Nabi 12 Rabi’ul Awwal 1436 H. Bertepatan dengan 3 Januari 2015 ini, tafakkur kita atas Pribadi yang begitu mulia, menemukan relevansinya.

(Inspirasi Artikel: Syed Ameer Ali, Nurcholish Madjid, Quraish Shihab, Media Zainul Bahri)

Penulis adalah Dosen FIS-UNP

google+

linkedin