SEBAGAIMANA kita ketahui, komunitas Tionghoa di Kota Padang yang diperkirakan mencapai puluhan ribu telah boleh dikatakan  membaur dengan masyarakat lokal, baik dari segi budaya mau pun agama. Bahkan, komunitas Tionghoa kalau kita lihat darisegala aspek kehidupannya telah  semakin menemukan eksistensi serta pengakuannya di republik tercinta ini, termasuk di Ranah Minang. 

Pengakuan atas keberadaan etnis Tiongha diawali dengat ditetapkannya Hari Raya Imlek, hingga kemudahan untuk menjadi Warga Negara Indonesia, sebagaimana dipelopori pemerintahan era Gus Dur ini. Fenomena ini bisa dikatakan menjadi tonggak bersejarah, sehingga saat ini kita bisa benar-benar merasakan atmosfir persaudaraan sesama anak bangsa, yang sama-sama berjuang untuk bangsa tercinta.
 
Saya melihat  Karnaval Sipasan yang diikuti ratusan perserta warga Kampung Pondok untuk memeriahkan HUT HBT (Hari Ulang Tahun Himpunan Bersatu Teguh) ke-138 tahun 2014 di Kota Padang, Rabu 31 Desember 2014 lalu,  sangat meriah dan sukses dan punya nilai budaya dan pariwisata.
 
Saya juga melihat, pelaksanaan Karnaval Sipasan, sekaligus menciptakan gairah baru dalam pembauran antara  masyarakat Kota Padang dengan etnis Tiongha. Bagi masyarakat lokal atau Padang, bergairah untuk mengetahui lebih jauh mengenai sejarah, tradisi serta aspek kehidupan lain dari komunitas etnis Tionghoa.
 
Karnaval Sipasan bisa juga dikataka sebuah konsep yang luar biasa, dan even ini mestinya dijadikan salah satu ‘icon’ Sumatera Barat. Warga Kampung Pondok selain warga taat pajak, juga memiliki partisipasi masyarakat yang tinggi dalam mendukung program konsinya, tentu juga program Pemerintah seperti dalam Manunggal Bulan Bhakti Gotong Royong dan program PNPM Mandiri perkotaan.
 
Khsusus kepada Tuako HBT Andreas Sofiandi, saya mengucapkan terima kasih dengan diundangnya saya untuk menghadiri acara Karnal Sipasan ini. Tak lupa juga saya mengucapkan terima kasih kepada Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Andi Mustari Pide, yang punya peranan penting dalam meningkatkan hubungan sesama anak bangsa antara warga lokal dengan etnis Tiongha dal konsep pembauran. (****)


google+

linkedin