BIJAK ONLINE-Perusahaan BUMN PT Adhi Karya yang menjadi kontraktor pelaksana pembangunan pabrik semen Indarung VI, disinyalir mempergunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi untuk mengoperasikan alat beratnya.
Berdasarkan investigasi Tabloid Bijak, yang mempergunakan BBM bersubsidi tak hanya PT Adhi Karya, tetapi juga PT Waskita Karya dan PT Pembangunan Perumahan sebagai kontraktor pelaksanan pembanguan Indarung VI.
PT Adhi Karya juga mempergunakan BBM bersubsidi untuk mengoperasikan alat beratnya untuk membangun rumah sakit Fakultas Kedokteran Universitas Padang. Bahkan, untuk proyek rumah sakit Kedokeran Unand, PT Adhi Karya diperkirakan mempergunakan bersubsidi 25 ribu liter atau 25 ton perbulan. Minyak bersusidi itu, konon kabarnya dipasok oleh PT Pontas yang bermarkas di Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Kemudian, PT Adhi Karya juga dipasok oleh PT Nesa.
Sedangkan untuk proyek Indarung VI, PT Adhi Karya mempergunakan BBM bersubsidi sekitar 5 ribu liter perhari atau sekitar 5 ton.
“Hari ko, lagi indak adoh aktifitas pengisian minyak dan bilo ado aktifitas pengisian minyak ketangki PT Adhi Karya, akan ambo berikan informasinyo,” kala salah seorang anak Nagari Pauhlimo yang minta jati dirinyo jangan ditulis dengan pertimbangan keselamatan dirinya.
Menurutnya, masalah pengalihan BBM bersubsidi ke industry, sudah menjadi kosumsi informasi bagi anak nagari Pauhlimo, tapi tak ada yang punya nyali untuk melaporkannya keparat penegak hukum. “Selain anak nagari tak punya nyali, juga percuma melaporkannya, karena ada oknum yang juga ikut melindungi pengalihan BBM bersubsidi tersebut,” tambahnya.
Dulu, katanya lagi, dirinya pernah mobil yang membawa BBM bersubsidi ke rumah sakit Fakultas Kedokteran Universitas Andalas diparkir di Polsek Pauh.”Tapi saya tak tahu persis, apa mobil itu ditangkap atau bagaimana,” katanya.
Kemudian anak nagari itu pun menyebutkan, kalau harga BBM jenis solar, Rp 6.700 dan BBM industry Rp 11.400 ribu. “Kita bias menghitung berapa keuntungan yang didapat oleh tukang pasok BBM tersebut,” katanya, sembari menambahkan, keuntungan besar tersebut juga dibagi-bagi dengan berbagai pihak terkait.
Sementara Ermonedi manejer pemasaran Adhi Karya wilayah Sumbar ketika dikonfirmasi dan klarifikasi tak bersedia dihubungi, baik langsung maupun melalui handphone. Ketika di SMS Ermonedi menjawab:” Klarifikasi saja langsung ke masing-masing proyek.”(tim)