BIJAK ONLINE-ALUMNI IAIN Imam Bonjol Padang yang yang berada di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi (Jabodetabek), yang tergabung dalam organisasi Pengurus Daerah Ikatan Alumni IAIN Imam Bonjol Padang (PD ILUNI) se Jabodetabek, kembali mengukir sejarah peralumnian IAIN dengan dikukuhkannya secara resmi oleh Ketua Umum Pengurus Pusat ILUNI Prof. Dr. H. Hasan Zaini, M.A. Minggu 2 Desember 2007 / 22 Zulka’idah 1428 H, di Auditorium Wisma Syahida Inn Kampus Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jln. Kerta Mukti, Ciputat Jakarta Selatan.
Dikatakan mengukir sejarah peralumnian, karena di samping pengukuhan Pengurus Daerah ILUNI Jabodetabek merupakan pengukuhan ke dua oleh Ketua Umum PP ILUNI H. Hasan Zaini, setelah PD ILUNI Propinsi Kepulauan Riau, yang dikukuhkan Rabu 9 Pebruari 2005 / 1 Muharram 1426 H di Batam Center, Jln. Engku Putri, Kota Batam, juga terkesan sebagai wadah “Curhat” (pencurahan isi hati) antara alumni dan Simpatisan yang berada di rantau dengan pemegang amanah sebagai pimpinan IAIN Imam Bonjol hari ini, yang diwakili oleh Rektor dan Purek III.
Kesan yang muncul dari pertemuan itu, betapa tingginya kepedulian dan keprihatinan Alumni terhadap perkembangan IAIN Imam Bonjol, dari berbagai sisi, dalam dasawarsa terakhir. Hal itu terbukti dengan spanduk di pentas tertulis: “Silaturrahmi dan Seminar Nasional Alumni IAIN Imam Bonjol Padang se Jabodetabek, Pengembangan IAIN Imam Bonjol Padang, Masa Depan, Tantangan dan Harapan”.
Perjalanan penulis mendampingi Ketua Umum PP ILUNI Prof. Dr. H. Hasan Zaini, M.A., dan Rektor IAIN Imam Bonjol Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A. serta Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof. Dr. H. Salmadanis, M.A. ke Jakarta kali ini, dalam rangka pengukuhan PD ILUNI se Jabodetabek, yang seiring dengan acara Silaturrahmi dan Seminar Nasional, dengan tema: “Memperkuat Peranan IAIN Imam Bonjol dalam Menghadapi Era Globalisasi Menuju Terwujudnya PTAI yang Unggul, Maju dan Mandiri”.
Penulis amat banyak mendapat cacatan-catatan manis dari pemikiran yang berkembang, untuk menengok IAIN Imam Bonjol masa lalu, kini dan ke depan, dalam kiprahnya di tengah-tengah masyarakat agamis Ranah Minang. Ketua Panitia pelaksana Letkol Drs. H. Asmil Ilyas, M.A. dalam laporannya mengemukakan bahwa dengan berkumpulnya Alumni IAIN Imam Bonjol se Jabodetabek ini, dapat menambah akrabnya hubungan antar alumni, sehingga kami bisa “saciok bak ayam, sadanciang bak basi, kaba baiak bahimbauan dan kaba buruak bahambauan”.
Dengan demikian, kita ditantang untuk dapat sama-sama melihat apa yang terjadi di kampung halaman, di ranah Minang, seperti peristiwa aliran “Al-Qiyadah Al-Islamiyah” yang oleh fatwa ulama dikategorikan sesat, yang akhirnya melalui wadah ILUNI ini, kita akan merasa terpanggil untuk menyikapinya. Prof. Dr. H. Armai Arief, M.A. mantan Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UIN Syahid Jakarta, yang mendapat amanah sebagai Ketua Umum PD ILUNI se Jabodetabek, di awal sepatah katanya mengungkapkan sebuah pantun: “Pulau Pandan jauah di tangah / di baliak pulau angso duo / hancua badan di kanduang tanah / guno IAIN Imam Bonjol takana juo”.
Suatu ungkapan yang mencerminkan rasa cinta yang mendalam terhadap almamaternya. Keberhasilan yang dirasakan saat ini oleh masing-masing alumni, mewajibkan kita perlu “takana” dengan almamater. Takana itu dalam arti yang bermacam-macam, sesuai dengan rentang pengalaman yang dilalui oleh masing-masing alumni di almamaternya.
Armai mengemukakan bahwa bila didata tidak akan kurang dari 500 orang alumni IAIN Imam Bonjol Padang di wilayah Jabodetabek, yang mengabdi di berbagai profesi, seperti pejabat pemerintah/ eksekutif, guru dan dosen (guru besar), pengusaha, swasta, politisi, sampai TNI/Polri, baik negeri maupun swasta, mulai sejak alumni angkatan pertama tahun 1972 sejak IAIN Padang berdiri 29 Nopember 1966, seperti Drs. Dalminis Nur, mantan Ka. Biro di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dan IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta serta beberapa jabatan penting di Departemen Agama pernah diembannya.
Secara kronologis, Armai Arief menceritakan proses terbentuknya Pengurus yang berjumlah 104 orang, mulai dari Dewan Pembina, Penyantun, dan Penasehat, serta Pengurus Harian yang dilengkapi dengan 5 macam Biro. Realitas yang muncul disaksikan di awal pertemuan ini, ungkap Armai Arief, adalah Bertemu membuat “Hidup Ceria”, dalam pandangan kita tidak ada yang merasa sedih di kala awal berjumpa, dan bersalaman. Kemudian, membawa kita bisa bekerjasama. “Asal bisa bersama, pasti bisa bekerjasama”, terang Armai secara pilosofis. Orang yang tak bisa bersama, adalah orang yang sakit, sedang orang sehat pasti bisa bekerjasama.
Bekerjasama inilah peluang untuk dapat memperhatikan almamater kita, IAIN Imam Bonjol Padang. Di sini Armai Arief mengajak semua alumni se Jabodetabek untuk bisa bekerjasama dalam mengembangkan organisasi alumni ini yang sekaligus mengembangkan almamater tentunya. (Penulis Dosen IAIN Imam Bonjol Padang)
