BISMILLAHHIRRAHMANIRRAHIM. Sesungguhnya hikmah adalah nikmat Allah subhanahu wata’ala yang tertinggi dan termulia yang dikaruniakan kepada hambanya yang beriman, bertaqwa, berilmu dan beramal. Oleh Karena itu penerima hikmah wajib bersukur dengan memanfaatkan sebagai wujud pengabdian kepada Allah Subhanahu Wata’ala melalui perjuangan membangun umat, masyarakat, bangsa dan negara.
Seorang Cerdik Pandai merupakan orang yang disebut dengan; “Kapai tampek batanyo dan kapulang untuak kaba kabarito.”
Cadiak pandai (Cerdik Pandai) adalah anggota masyarakat biasa. Akan tetapi ia memiliki kelebihan, dan kelebihan tersebut menjadikannya orang yang berada dimasyarakat. Kelebihan tersebut terletak pada ilmu yang ia miliki. Ia sangat pintar dan mempunyai pengetahuan yang luas dalam bidangnya. Pengetahuan yang ia miliki tersebut ia gunakan dalam kehidupan pribadinya dan juga kehidupan masyarakat.
Kelebihan yang dimiliki tersebut membuat cadiak pandai menjadi pemimpin di dalam masyarakat. Kedudukannya sebagai kepemimpinan tersebut, didapatkannya sama seperti alim ulama. Kedudukan tersebut tidak di wariskan seperti pangulu. Namun, kedudukan tersebut didapatkan karena kemampuannya mengembangkan diri dan kemampuan mendapatkan pengetahuan yang luas. Kemampuan ini membuat masyarakat tertarik kepadanya. Sehinggnya masyarakat menjadikannya pemimpin dalam masyarakat di Minangkabau. Ia bersama – sama dengan pemimpin lain, berusaha membangun kaum dan nagarinya ke arah yang lebih baik.
Cendikiawan atau Intelektual adalah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, menggagas, meneliti, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Kata Cendikiawan berasal dari Chanakya, seorang politikus dalam pemerintahan Chandragupta dari Kekaisaran Maurya.
Secara umum, terdapat tiga pengertian modern istilah cendikiawan, yaitu :
1. Mereka yang amat terlibat dalam idea-idea dan buku
2. Mereka yang mempunyai keahlian dalam budaya dan seni yang memberikan kewibawaan kebudayaan, dan yang kemudian mempergunakan kewibawaan itu untuk mendiskusikan perkara-perkara lain di khalayak ramai.
3. Dari segi Marxisi, mereka yang tergolong dalam kelas dosen, guru, pengacara, wartawan dan sebagainya. Oleh karena itu, cendekiawan sering dikaitkan dengan mereka yang lulusan universitas. Namun Sharif Shaary, dermawan Malaysia terkenal, mengatakan bahwa hakikatnya Cendikiawan tidak semudah itu. Ia berkata:
“Belajar di universitas bukan jaminan seseorang dapat menjadi cendikiawan, seorang cendikiawan adalah pemikir yang senantiasa berpikir dan mengembangkan (serta) menyumbangkan gagasannya untuk kesejahteraan masyarakat. Ia juga seorang mempergunakan ilmu dan ketajaman berfikirnya untuk mengkaji, menganalisis, merumuskan segala perkara dalam kehidupan manuasia, terutama masyarakat dimana ia hadir khususnya dan diperingkat global umumnya untuk mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran itu. Lebih dari itu, seorang cendikiawan juga seorang yang mengenali kebenaran dan juga berani memperjuangkan kebenaran itu, meskipun menghadapi tekanan dan ancaman.
Dari segelintir uraian secara umum diatas tentang cerdik pandai dan Cendikiawan, maka tokoh-tokoh yang diuraikan tersebut hendaknya lahir dan menjamur di kampung halaman saya yaitu “ RENAH INDO JATI”. Jika kita mendengar nama Renah Indo Jati maka tak asing bagi kita dan acap kali mendapat info yang baik dan yang tidak baik. Mulai dari persoalan adat, budaya, agama, pendidikan, ekonomi, social masyarakat dll. Maka kami dari Generasi Muda Renah Indo Jati menginginkan lahirnya sebuah Organisasi INDEPENDEN yang memikirkan dan mencari solusi setiap persoalan yang ada di Renah Indo Jati, sebuah organisasi itu adalah IKATAN CERDIK PANDAI dan CENDIKIAWAN RENAH INDO JATI ( keputusan namanya silahkan diputuskan ketika kongres nanti).
Bagi saya, entah ini sebuah mimpi atau hanya harapan saja, dengan potensi intelektualitas yang cukup mumpuni di Renah Indo Jati, Jika ada kesatuan dan Persatuan dalam penyaluran ide dimana segala hal digumulkan secara professional dan spesifik, maka para intelektualitas akan memainkan peran yang jauh lebih signifikan dibanding hari ini. Berbagai kebijakan local bisa diperdebatkan secara bebas sebelum ketuk palu oleh otoritas setempat, ataupun berbagai masalah social ekonomi dan politik ditingkat local bisa didiagnosa secara bersama-sama, sampai ada titik solutif untuk diajukan ke level kekuasaan dan dijadikan kebijakan.
Bagi saya dan Generasi Muda Renah Indo Jati, ini adalah progress yang baik, sebuah arah untuk “intellectual collective action” yang diharapkan akan memiliki imbas positif terhadap perkembangan Renah Indo Jati kedepannya. Ini jelas bukan gerakan intelektual politis, ini adalah inisiasi murni atas kegelisahan-kegelisahan Generasi Muda Renah Indo Jati. Perkara politik silahkan berpulang Kediri masing-masing, tak ada harapan kepada mereka untuk bersikap politis seperti hari ini dan untuk dikemudian hari.
Saya rakyat Jelata dan orang biasa ini hanya berharap ada ruang-ruang yang selama ini sunyi diisi oleh generasi-generasi intelektual dengan gerakan-gerakan intelektual inspiratif serta melahirkan banyak perubahan kedepannya untuk Renah Indo Jati, Tentunya perubahan kearah lebih baik terutama untuk semua masyarakat Renah Indo Jati dimanapun Berada.
Bukankah ada beban moral yang tersangkut dipundak cadiak pandai dan cendikiawan Renah Indo Jati terhadap masyarakat?? Maka peran-peran intelektual tersebut sangatlah ditunggu oleh masyarakat. Dan saya yakin, masyarakat memang sedang menunggu. Apalagi jika kita menyaksikan babak belurnya kehidupan ekonomi, Amburadulnya tata hukum dan politik, atau tergoresnya tata budaya oleh pisau-pisau modernitas yang negative, maka pastilah masyarakat menunggu aksi dan reaksi para Cerdik pandai dan cendikiawan Renah Indo Jati diamanapun berada.
Pendek Kata, terlepas apakah organisasi ini akan lahir atau tidak nantinya, Apresiasi dari intelektual-intelektual muda yang terlibat dan dukungan moril serta materil dari berbagai tokoh di Renah Indo Jati. Karena pertanda bahwa geliat yang saya harapkan itu masih akan bergerak dinamis mencari berbagai titik terobos untuk berbagai persoalan kehidupan yang ada di Renah Indo Jati. SEMOGA (Padang, 2 Februari 2016, HARMIDI Aktivis dan generasi Muda Renah Indojati)
