TAK Ada seseorang pun anak manusia yang dilahirkan untuk membenci orang lain, karena perbedaan kampung halaman, suku. serta partai politik dan pilihannya pada Pilkada, 9 Desember 2015 lalu.

Jika seseorang punya rasa benci, pastilah bisa belajar bagaimana mencintai karena cinta datang lebih alami ke dalam hati manusia, buka sebaliknya.

Pesta politik pemilihan gubernur di Ranah Minang, sudah masuk partai final, karena menunggu saat pelantikan bagi paslon Prof Dr H Irwan Prayitno dan Nasrul Abit, yang konon kabarnya akan dilantik Presiden Jokowi, 12, 13 atau 15 Februari 2016 mendatang.

Sebagai sebuah pesta demokrasi dan tata cara pemilihan kepala daerah yang dilaksanakan di Ranah Minang, s9 Desember 2015 lalu,  tentulah  memunculkan persaingan antar kandidat dengan berbagai cara dan manuver politik yang dilakukan masing paslon, timses, tim relawan dan tim simpatisan.  Bahkan, disaat kampanye hingga pencoblosan, persaingan antar paslon dan pendukung masing-masing kandidat, menimbulkan saling memunculkan rasa benci dan rasa sayang. Maksudnya, timses akan membenci lawan politiknya dan menularkan rasa cinta,  sayang, senang tehadap paslon yang didukung dan dipejuangkan dengan sekuat tenaga dan pikiran.

Yang hebatnya sampai sekarang, paslon MK-FB yang tak beruntung memenangkan pilgub Sumbar, sampai sekarang masih saja memeliara rasa kebencian dan tak menerima kekalahan terhadap paslon IP-NA yang telah ditetapkan KPU dan DPRD Sumbar sebagai pemenang pilgub. 

Setelah menggugat di PTUN dan Mahkamah Konstitusi, paslon MK-FB juga melapor ke Bareskrim Polri di Jakarta. Dan yang mengagetkan, paslon MK-FB juga disebut-sebut mengadu ke Mendagri, yang katanya pengaduan paslon MK-FB tak digubris oleh Mendagri Tjahyo Kumolo. 

Kini, terlepas dari sikap yang dipertontonkan paslon MK-FB, anggap sajalah perjuangan sia-sia kedua anak nagari Ranah Minang tersebut, sebagai penampakan sikap mental atau karakter kepribadian yang kurang bagus untuk ditiru dan dicontoh. 

Kemudian, bagi timses, tim sukarelawan, tim simpatisan, dunsanak, orang sekampung kedua masing paslon gubernur, agar jangan sampai memeliara rasa benci atau dendam dan sebaiknya saling berkomunikasi kembali sebagai anak negari yang punya tugas dan tanggungjawab membangun Ranah Minang.

Sedangkan bagi paslon Gubernur Sumbar terpilih, Prof Dr H Irwan Prayitno dan Nasrul Abit, juga diharapkan menghapus rasa dendam politik dan rasa benci terhadap timses, tim sukarelawan dan simpatisan, termasuk kepada paslon  MK-FB.  Kenapa? Karena semua pendukung MK-FB, termasuk MK-FB itu sendiri adalah anak Ranah Minang juga yang harus punya rasa tanggungjawab membangun tanah leluhurnya.

Khsusus masalah dendam politik, tak ada salahnya juga kalau menjadikan perjalanan hidup Nelson Rolihlahla Mandela sebagai panutan. Kenapa? Karena politisi kelahiran 18 Juli 1918 ini, seorang politisi anti apharheid atau politik tanpa membedak warna kulit hitam dan putih dan agama. 

Sikap dan prilaku Nelson Madela yang patut ditiru itu, sikap politiknya yang memaafkan lawan politiknya, meskipun lawan politiknya tersebut  telah menyiksa dan memasukannya ke penjara. Kemudian,  Nelson Mandela memaafkan lawan politiknya, sehingga mendapat nobel perdamaian.(penulis wartawan tabloid bijak dan padangpos.com)

google+

linkedin