BIJAK ONLINE (SOLOK)-Anggota DPRD Kabupaten Solok, Ahmad Purnama menyarankan Dinas Perhubungan dan Dinas Koperindag Kabupaten Solok, untuk memantau langsung masalah tarif angkutan yang masih belum turun dan sementara harga-harga sembako di lapangan juga masih mahal, sehingga tidak merugikan masyarakat.
"Kalau harga BBM-nya telah turun, ongkos atau tarif angkutan, juga harus turunlah dan saya minta kadis perhubungan untuk menindak para sopir nakal yang masih belum juga menurunkan tarif angkutannya," kata anggota DPRD Kabupaten Solok, Ahmad Purnama.
Menurut Ahmad Purnama, kadis perhubungan harus proaktif memantau masalah satif angkutan ini. Soaanya, masalah tarif angkutan berkaitan dengan harga sembako dipasaran. "Sebelumnya sudah ada pertemuan Dinas Perhubungan dan Kominfo Kabupaten Solok dan pihak Organda serta para pengusaha angkutan umum sudah sepakat tentang tarif angkutan turun antara 10 hingga 15 persen, namun masyarakat masih saja mengeluhkan masih mahalnya tarif angkutan kendaraan di daerah itu," ujar politisi ini.
Secara terpisah, Riya (24) warga Sumani yang bekerja di Kayu Aro menyebutkan ongkos masih belum turun. "Katanya BBM dan ongkos sudah turun dan pihak Organda serta Dinas Perhubungan sudah sepakat dengan tarif baru, tetapi kenapa ongkos masih mahal. Para sopir masih ogah menurunkan tarif angkutan dengan masih tetap memungut tarif lama,” tuturnya.
Keluhan sama, juga disampaikan Dinda (33), seorang ibu rumah tangga di Sumani. “Katanya ongkos ke Sumani hanya Rp 3000. Kok para sopir masih memungut Rp 5000,” tuturnya dengan nada kecewa. Ditambahkannya, meski di pintu angkot sudah ditulis mengenai tarif angkutan Sumani kota Solok Rp 3000 ribu, namun pelaksanaan di lapangan tetap saja tidak sama.
Sementara itu, Jon (38), seorang karyawan di Pemkab Solok, juga kecewa dengan tarif Jasa Malindo dan Trans Mitra yang masih memungut tarif Rp 15 ribu dari kota Padang menuju Kayu Aro.
“Dulu sebelum BBM naik, tarif kota Padang menuju Kayu Aro, hanya Rp 13 ribu. Tetapi sekarang disaat BBM suah turun, kenapa para agen dan sopir masih tetap memungut tarif Rp 15 ribu. Itu namanya tidak turun,” tutur Jon yang bolak balik kota Padang Kayu Aro setiap hari.
Ditambahkan Jon, dengan sudah turunnya harga BBM dua kali, maka sudah sewajarnya para pengusaha angkutan umum dan sopir menurunkan tarif. Namun menurutnya, jika hal itu akan diharapkan kepada pengusaha angkutan dan sopir, akan sangat sulit tarif diturunkan, kalau tidak ada keseriusan dari pemerintah daerah.
Sedangkan harga sembako di beberapa pasar tardisionil di Kabupaten Solok, juga masih tinggi dan masih banyak yang belum turun. Padahal dengan telah diturunkannya harga BBM oleh pemerintahan Joko Widodo, maka otomtais harga-harga juga akan kembali normal seperti tahun sebelumnya. (wandy)
"Kalau harga BBM-nya telah turun, ongkos atau tarif angkutan, juga harus turunlah dan saya minta kadis perhubungan untuk menindak para sopir nakal yang masih belum juga menurunkan tarif angkutannya," kata anggota DPRD Kabupaten Solok, Ahmad Purnama.
Menurut Ahmad Purnama, kadis perhubungan harus proaktif memantau masalah satif angkutan ini. Soaanya, masalah tarif angkutan berkaitan dengan harga sembako dipasaran. "Sebelumnya sudah ada pertemuan Dinas Perhubungan dan Kominfo Kabupaten Solok dan pihak Organda serta para pengusaha angkutan umum sudah sepakat tentang tarif angkutan turun antara 10 hingga 15 persen, namun masyarakat masih saja mengeluhkan masih mahalnya tarif angkutan kendaraan di daerah itu," ujar politisi ini.
Secara terpisah, Riya (24) warga Sumani yang bekerja di Kayu Aro menyebutkan ongkos masih belum turun. "Katanya BBM dan ongkos sudah turun dan pihak Organda serta Dinas Perhubungan sudah sepakat dengan tarif baru, tetapi kenapa ongkos masih mahal. Para sopir masih ogah menurunkan tarif angkutan dengan masih tetap memungut tarif lama,” tuturnya.
Keluhan sama, juga disampaikan Dinda (33), seorang ibu rumah tangga di Sumani. “Katanya ongkos ke Sumani hanya Rp 3000. Kok para sopir masih memungut Rp 5000,” tuturnya dengan nada kecewa. Ditambahkannya, meski di pintu angkot sudah ditulis mengenai tarif angkutan Sumani kota Solok Rp 3000 ribu, namun pelaksanaan di lapangan tetap saja tidak sama.
Sementara itu, Jon (38), seorang karyawan di Pemkab Solok, juga kecewa dengan tarif Jasa Malindo dan Trans Mitra yang masih memungut tarif Rp 15 ribu dari kota Padang menuju Kayu Aro.
“Dulu sebelum BBM naik, tarif kota Padang menuju Kayu Aro, hanya Rp 13 ribu. Tetapi sekarang disaat BBM suah turun, kenapa para agen dan sopir masih tetap memungut tarif Rp 15 ribu. Itu namanya tidak turun,” tutur Jon yang bolak balik kota Padang Kayu Aro setiap hari.
Ditambahkan Jon, dengan sudah turunnya harga BBM dua kali, maka sudah sewajarnya para pengusaha angkutan umum dan sopir menurunkan tarif. Namun menurutnya, jika hal itu akan diharapkan kepada pengusaha angkutan dan sopir, akan sangat sulit tarif diturunkan, kalau tidak ada keseriusan dari pemerintah daerah.
Sedangkan harga sembako di beberapa pasar tardisionil di Kabupaten Solok, juga masih tinggi dan masih banyak yang belum turun. Padahal dengan telah diturunkannya harga BBM oleh pemerintahan Joko Widodo, maka otomtais harga-harga juga akan kembali normal seperti tahun sebelumnya. (wandy)
