BIJAK ONLINE (OPINI)-Irwan Prayitno mengingatkan saya kepada Susilo Bambang Yudhoyono, prisiden Indonesia periode 2004-2014. Kesamaan dua orang tokoh ini, mereka sama-sama musikus dan politikus yang santun.

Musikus

SBY, akronim nama suami Kristiani Herrawati itu telah menelurkan lima album saat menjabat presiden, yakni Rinduku Padamu (2007), Evolusi (2009), Ku Yakin Sampai Di Sana (2010) dan Harmoni Alam Cinta dan Kedamaian (2011) dan Kumpulan Lagu-Lagu Terbaik Karya SBY (2014). IP, akronim nama suami Nevi Zuairina itu menerbitkan dua album, yaitu Cinta Sejati (2014) dan Cinta Sesama Manusia (2015).

Album Cinta Sejati berisi 12 lagu yang terdiri dari lima lagu merupakan ciptaan IP sendiri yaitu Kau Istriku, Anakku, Allah Ta’Ala, Ayah, Kepadamu, dan selebihnya merupakan hits dari penyanyi-penyanyi yang sudah ada seperti, Maher Zain, Raihan, Gigi, dan lainnya. Hits dalam album itu adalah lagu Kau Istriku. Video klip lagu itu dibintangi oleh artis ibukota yang bercitra islami: Dude Harlino dan Alyssa Soebandono. Sementara album Cinta Sesama Manusia berisi sepuluh lagu.

Total lagu yang SBY ciptakan dan masuk dapur rekaman berjumlah 40 lagu, sementara lagu IP belum sampai sebanyak itu. IP memang tidak seproduktif SBY dalam menciptakan lagu. Akan tetapi, puluhan lagu yang IP ciptakan cukup untuk membuktikan bahwa IP adalah seorang yang bukan sekadar memiliki bakat seni, sudah pantas disebut musikus, seperti yang disematkan kepada SBY.

Sama seperti SBY, IP menciptakan lagu itu di tengah kesibukan sebagai pejabat. Seperti  yang semua orang tahu, IP merupakan Gubernur Sumbar periode 2010-2015. Seandainya tidak sibuk bekerja, barangkali IP menciptakan lebih banyak lagu lagi. Kalau ada pertanyaan, mengapa SBY lebih banyak menciptakan lagu daripada IP, jawaban yang tepat adalah karena keberhasilan seorang pemimpin bukan dilihat dari jumlah lagu yang ia bikin, melainkan dari prestasi pembangunannya di daerah yang ia pimpin. Soal lagu, adalah karya dari bakat seorang manusia, terlepas dari apapun jabatan dan profesinya.

Dalam hal memainkan alat musik, IP memiliki kelebihan daripada SBY. SBY dalam beberapa referensi, diketahui hanya bisa memainkan gitar dan bass, sedangkan IP mampu memainkan gitar dan drum. IP sering memerlihatkan kemampuannya bermain drum di depan khalayak. Itu menunjukkan bahwa IP benar-benar bisa memainkan drum, bukan sekadar gaya-gayaan saja. Demikian juga kemampuan bermain gitar. Dalam video klip amatiran yang diunggah ke Youtube, IP bermain gitar dan bernyanyi secara langsung di hadapan istrinya, dalam lagu Kau Istriku. Lagu itu tidak direkam dengan kualitas alat rekam di perusahaan rekaman, akan tetapi direkam dengan kamera video saja. Namun, petikan dan rif-rif gitar serta suara IP terlihat jelas, tidak jauh berbeda ketika lagu itu direkam dan dibuatkan video klip pada kemudian hari. Sekadar informasi, lagu dalam video klip amatiran itulah yang membuat IP dilirik oleh produser untuk kemudian direkam secara professional dan dibuat video klipnya.

Berpolitik Santun

SBY dikenal sebagai orang yang memelopori politik santun di Indonesia. Terlepas dari berbagai skandal yang berkaitan dengan SBY selama masa kepemimpinannya, SBY dinilai banyak pihak sebagai politikus yang menampilkan wajah politik santun, tak terkecuali terhadap lawan-lawan politiknya, meski tudingan, caci makian, bahkan fitnah ditujukan oleh berbagai pihak terhadapnya. Perilaku politik seperti ini juga terlihat dilakukan IP. Selama menjabat anggota DPR RI dan gubernur Sumbar, IP tak terlihat membalas hal buruk yang dilakukan kepadanya dengan hal buruk pula. IP terlihat lebih banyak membalas hal itu dengan senyuman. Padahal, IP adalah seseorang yang memiliki kemampuan ilmu bela diri. Dalam dunia karate, ia beroleh sabuk hitam. Sulit dipercaya memang, tetapi begitulah kenyataannya.

Dalam kondisi politik yang serba tak menentu dan berpotensi menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat, berpolitik santun agaknya pilihan terbaik. Semua orang boleh saja berpolitik dan menginginkan jabatan asalkan dilakukan dengan cara-cara yang tidak melukai perasaan orang dan tidak menyulut keributan.

Tulisan ini tidak hendak menyama-nyamakan ketokohan SBY dan IP. Meski memiliki kecakapan dalam hal berkesenian, dalam hal ini musik, SBY dan IP tetaplah berbeda. Dengan menciptakan lagu dan berpolitik santun, IP bukan berarti meniru kiprah SBY. Analoginya, apabila ada dua orang melakukan hal yang sama, bukan berarti salah satu di antara mereka meniru. Kalau pada akhirnya mereka melakukan hal yang sama, selama hal itu sebuah kebaikan, tidak ada masalah, bukan?

google+

linkedin