PENULIS BUKU BERPRILAKU BIADAP. Rasanya, kata-kata kasar dan kurang bermoral ini layak dan pantas pula dialamatkan kepada penulis buku abal-abal yang sengaja menzhalimi Prof Dr H Irwan Prayitno Psi Msc dengan membuat sensasi di Ranah Minang dengan karya tulisnya yang berjudul;"Sumatera Barat Dibawah Irwan Prayitno Tanpa Kemajuan."
Kenapa penulis bukunya dikatakan biadap? Karena buku yang diterbitkan tidak dicantum nama penulisnya, serta tak jelas dimana dicetak dan diterbitkan oleh siapa. Tapi buku tersebut, sengaja disebarkan di media sosial, dengan tujuan menarik perhatian fesbuker untuk membaca buku yang berisikan fitnah tersebut, karena tidak didukung data dan fakta dan hanya berdasarkan asumsi dan pemikiran liar penulis biadap tersebut.
Tujuan dari penulis buku berprilaku biadap tersebut, sengaja untuk membunuh karakter dan merusak pencitraaan Prof Irwan Prayitno yang multi talenta, yang punya reputasi politik yang go nasional, karena pernah tiga periode menjadi anggota dewan yang terhormat, DPR Republik Indonesia.
Akibat buku yang ditulis oleh penulis berprilaku biadap tersebut, memunculkan berbagai kecurigaan dan dugaan terhadap beberapa penulis, serta wartawan, karena isi dari buku tanpa nama penulis pada karya buku itu, berbahasa lugas dan tegas. Tapi sayangnya, pokok pikiran yang dituangkan dalam buku tanpa nama penulis itu, berupa opini liar yang tak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Yang menariknya lagi, buku tanpa nama penulis itu, juga memunculkan dampak politik terhadap lawan politik Prof Irwan Prayitno, yang disebut-sebut aktor atau dalang yang membiayai penerbitan buku yang ditulis penulis yang berprilaku biadap itu.
Selain itu, buku tanpa nama penulis tersebut, juga memunculkan dugaan dan sangkaan terhadap beberapa wartawan yang sudah malang melintang di dunia jurnalistik di Sumatera Barat. Dugaan dan sangkaan tersebut, karena dari opini liar yang dirangkai dengan untaian kata, agak-agak mirip dengan beberapa tulisan si wartawan yang dicurigai.
Dari kajian tim penasehat hukum, Prof Irwan Prayitno, disimpulkan beberapa point yang merusak atau mencemarkan nama baik.
1. Judul buku sangat jelas mencemarkan nama baik dan fitnah, dimana judul buku tersebut adalah;"Sumatera Barat DIbawah Irwan Prayitno Tanpa Kemajuan."
2. Buku tersebut tidak mencantumkan nama penulis dan penerbit, sehingga buku tersebut bisa dikategorikan buku illegal.
3.Halaman 8, dalam buku tersebut tertulis, bagaimana pelaksanaan Reformasi ditangan Irwan Prayitno? Reformasi dalam pemerintahan nyaris hanya jadi bahasa spanduk dan baliho....Kata-kata ini merupakan bentuk fitnah yang dialamatkan kepada Irwan Prayitno.
4.Halaman 46, dalam buku tersebut ditulis Prioritas RPJMD Sumatera Barat yang ke-6 adalah Industri olahan dan perdagangan. Ini hanya enakdibaca tapi sudah lima tahun Gubernur Irwan Prayitno dikursinya. Industri Olahan dan Perdagangan tersebut tak pernah jelas bentukya. Tulisan ini mencemarkan nama baik dan fitnah terhadap Irwan Prayitno.
5.Halaman 86. 87 dan 88. Judul tulisan dalam halaman 86 Bersenang-senang diatas Kekuasaan, pada halaman 87 dan 88 ada gambar yang menyatakan Irwan Prayitno, bersenang-senang diatas pentas musik, bersenang-senang dan menghabiskan waktu dengan Drum, bersenang-senang dengan gitar bernyanyibersama istri, bernyanyi ditengah ekonomi rakyat semakin sulit. Kata-kata dalam tulisan ini merupakan fitnah dan pencemaran nama baik.
6.Halaman 91, 92 dan 93 juga fitnah dan mencemarkan nama baik, dimana dalam judul tulisannya:"Gubernur Irwan Lebih Mengutamakan Partainya." Tuulisan ini sangat tidak berdasar, karena memang, jelas maksudnya. Tulisannya adalah untuk menfitnah Irwan Prayitno.
7.Pada halaman 117, tertulis Irwan Prayitno Gubernur Sumbar 2010-2015."Ada, tapi terasa tak ada." Sangat jelas tulisa ini memfitnah.
Kemudian, tim penasehat hukum mengajak Irwan Prayitno melaporkan penulis buku tanpa nama penulis ke Polda Sumbar. Irwan Prayitno pun telah menjelaskan persoalannya ke aparat penyidik Polda Sumbar, Kamis 15 Oktober 2015.
Terlepas dari persoalan hukum, yang jelas prilaku penulis dan orang yang mendanai penerbitan buku tersebut, sudah jelas merusak nama baik Ranah Minang Sumatera Barat. Soalnya, berdasarkan catatan sejarah, tak satu pun penulis dari Ranah Minang yang sengaja menyembunyi namanya di buku yang ditulisnya. Fakta ini jelas, sudah ada penulis di Ranah Minang Sumatera Barat, yang pembohong, pengecut dan berprilaku biadap. (Penulis wartawan Tabloid Bijak dan Padangpos.com)
