“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (Surah Al Hadid ayat 22).

ADANYA informasi tentang gunung api di bawah laut yang masih aftif di Kabupaten Muko-muko Provinsi Bengkulu, jelas menjadi ancaman yang sangat dahsyat, serta menakutkan. Terlepas dari kebenaran informasi tersebut, yang jelas masyarakat di Sumatera Barat, terutama yang di Pesisir Selatan yang berbatasan denga Kabupaten Muko-muko perlu mewaspadai ancaman letusan gunung api bawah laut tersebut.

Informasi gung api bawah laut tersebut bermula dari komentar Gubernur Bengkulu, Junaidi Abdullah sebagai mana dilansir, Kompas.com, Rabu, 11 September 2015 lalu. Waktu itu sang gubernur mengatakan, kalau dirinya  serba salah untuk mengumumkan adanya gunung bawah laut yang aktif dan mengancam. Alasannya, lebih karena tak ingin masyarakatnya resah, gelisah dan dihantui ketakutan.

Perkiraan adanya gunung api yang masih aktif, disampaikan oleh Asisten II Pemprov Bengkulu, Ir M Nasyah, MT. Katanya, gunung api baah lau yang masih atktif itu berada di antara Pulau Enggano dan Pulau Mega. Bahkan, katanya, gunung api yang di Kabupaten Muko-muko tersebut  serta merupakan salah satu gunung bawah laut tertinggi di dunia.

Yang menariknya lagi, Asisten II Pemprov Bengkulu, Ir M Nasah MT itu menyebutkan pula kalau masalah gunung api bawah laut tersebut telah diteliti oleh tim ahli dari negara Prancis. Waktu itu diberikan informasi  kalau  keaktifan gunung api bawah laut itu masih rendah.

Lantas dari hasil penelitian pakar dari Perancis itu, jelas menimbulkan pertanyaan. Benarkah apa yang diyakini Gubernur Bengkulu dan asisten II-nya tersebut? Kemudian, apakah memang ada gunung api aktif di bawah laut Bengkulu yang bisa memicu bencana?

Sebenarnya, tentang adanya gunung api di bawah laut Bengkulu  yang jadi ancaman tersebut telah diteliti melalui kerja sama antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), LIPI, Institut de Physique du Globe (IPG), sebagaimana pernah diberitakan Kompas.com, 28 Mei 2009 lalu.

Waktu itu,  peneliti dari BPPT, Yusuf Surachman, memang pernah mengatakan. "Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia, tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua." Bahkan katanya, puncak gunung tersebut berada di kedalaman 1.280 meter di bawah permukaan laut.

Begitu hasil penelitian tersebut  dipublikasikan di media massa, telah terjadi pula perdebatan tentang kebenaran hasil penelitian, diantara para geolog dan vulkanolog yang  mempertanyakan hasil penelitian tersebut.

Contohnya, Surono dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menegaskan, jika ada gung api di bawah lauh di Kabupaten Muko-muo Bengkulu, apa buktinya.  Mnurutnya, jika memang ada gunung api aktif, aktivitas gunung pasti diketahui, misalnya dengan adanya asap dan lava yang keluar dari gunung tersebut. Bahkan, pastilah ada sejarah letusannya.  Paling tidak kalau gunung api tipe A, dari tahun 1600 pasti ada letusannya. Jadi katanya, apa yang ditemukan di bawah laut Bengkulu sama sekali bukan gunung api aktif.

Sementara itu, Danny Hilman Natawidjaja dari Geoteknologi LIPI mengatakan bahwa yang ditemukan di Bengkulu memang gunung api.  Tetapi, sekarang sudah tidak aktif lagi. Kemungkinan sudah tidak aktif dari jutaan tahun lalu.

Lain pula halnya dengan pendapat, Irwan Meilano, pakar tektonik dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Katanya, apa yang ditemukan di bawah laut Bengkulu, l lebih pas disebut seamount (bukit laut). Alasanya, karena busur vulkanik di Sumatera berada di dekat sesar Sumatera. Mulai dari Gunung Seulawah, Toba, Sinabung, Talang, Marapi, dan lainnya, semuanya ada di dekat sesar Sumatera. Jadi katanya,  busur gunung apinya tidak di kepulauan luar (fore arc), tetapi di tengah Pulau Sumatera.

Kemudian, Irwan mengungkapkan, mungkin saja ada hotspot gunung api di luar busur gunung api. Namun, peluangnya kecil. Kataya, Gunung api di Indonesia kebanyakan terbentuk sebagai proses subduksi sehingga areanya dapat diperkirakan. Peluang adanya gunung api yang terbentuk dengan mekanisme lain (hotspot) mungkin saja, tetapi peluangnya kecil.

Menurut Irwan,  otoritas menetapkan aktif atau tidaknya gunung api dan bahayanya berada di tangan PVMBG.Jadi, Irwan menyarankan kepada kalangan peneliti ataupun pemerintahan agar tidak menyebarkan kepanikan.

Kini, terlepas dari perbedaan pendapat para pakar tersebut, tak ada salahnya juga masyarakat tetap waspada. Sebab, para pakar hanya bisa memprediksi atau memperkirakan dan semuanya tentu sesuai dengan kehendak Allah penguasa alam semesta. Soalnya, secara etimologi,definisi gempa bumi adalah merupakan peristiwa alam, terjadi secara mendadak, kerana pelepasan energi, akibat daripada pergeseran relatif batuan/lempeng tektonik/kerak bumi. (penulis wartawan bijak dan padangpos.com)

google+

linkedin