BIJAK ONLINE (Padang)-Masyarakat Jorong Kampung Surau Kecamatan Pulau Punjung Dharmasraya sangat berharap kepada DPRD Sumbar melalui Komisi I untuk membatalkan HGU PT Bina Pratama Sakato Jaya. Alasannya, karena tanah ulayat yang dkuasai PT Bina Pratma Sakato Jaya tidak sesuai dengan perjanjian.
"Berdasarkan data dan fakta yang telah kami kaji di LSM Mamak, kehadiran PT Bina Pratama Sakato Jaya di Kampung Surau samahalnya dengan prilaku Belanda yang datang untuk menjajah dengan menerapkan pola adu domba, serta menguasai tanah ulayat masyarakat seenaknya," kata Ketua Tim Investigasi LSM Mamak, Djamalus Datuk Rajo Balai Gadang, Rabu, 14 Oktober 2015.
Menurut Djamalus Datuk, sudah sangat tepat masyarakat Kampung Surau berkeluh kesah dan melaporkan prilaku PT Bina Pratama Sakato Jaya ke DPRD Sumbar melalui Komisi I tersebut. "Kami di LSM Mamak yakin, kongkalingkong persoalan HGU PT Bina Pratama Sakato Jaya ini akan terungkap dan hak tanah ulayat akan kembali ke masyarakat," kata anggota jemaah tabliq ini.
Dari data yang ada di LSM Mamak, kata Djamalus, ada perpanjangan dan pembaharuan HGU PT Bina Pratama Sakato Jaya tanpa ada pembicaraan dan pemberitahuan kepada masyarakat pemilik ulayat. Padahal, tanah ulayat yang dijadikan kebun kelapa sawit oleh PT Bina Pratama Sakato Jaya itu, sebelumnya merupakan kebun karet masyarakat.
Diduga, kata Djamalus, ada permainan dalam perpanjangan dan pembaharuan HGU PT Bina Pratama Sakato Jaya, dari akhir masa berlaku 1930, diperpanjang menjadi 2059 dan kemudian diperbaharui menjadi 2094. "Fakta HGU PT Bina Pratama Sakto Jaya sampai 2094 itukan patut dipertanyakan dan dicurigai, apa dasar hukumnya kok sampai diperpanjang dan diperbaharui," tegasnya aktifis yang vokal ini.
Secara tepisah, Mazni Anwar salah seorang yang mendapat kuasa dari masyarakat menyebutkan, persoalan PT Bina Pratama Sakato Jaya ini sudah dilaporkan ke DPRD Sumbar melalui Komisi I.
Menurut Mazni Anwar, yang menjadi tuntutan masyarakat Jorong Kampung Surau Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya terhadap PT Bina Pratama Sakato Jaya ada empat point.
1. Serahkan hak plasma masyarakat 1218 hetare.
Dengan dasar 2062 Ha jumlah lahan keseluruhan – kawasan Hutan Lindung 165 Haktare = 1897 hetare x 70 %. = 1328 hetare – yang telah diterima 110 = 1218 hetare.
2. Bayarkan kovensasi hasil panen senilai 722,883 miliyar rupiah,
Dengan rincian sbb ; penghasilan bersih perbulan/ha Rp 2 .500.000,- x 12 bulan x 20 tahun x 1218 ha – pinjaman Bank Rp 7,917 miliyar = 722,883 miliyar rupiah.
3. Perpanjangan HGU dan Pembaharuan yang berakhir tahun 2094, batalkan karena tidak ada persetujuan masyarakat banyak, seluruh lahan berasal dari tanaman karet tua masyarakat, bukan tanah negara.
4. Kovensasi sewa tanah pabrik 25 hektar = 3,6 miliyar rupiah,
dengan rincian sbb ; satu juta per/ha/bulan x 12 tahun x 25 hehtare. = 3,6 milyar rupiah.
Keempat point tersebut diatas agar dilaksnakan oleh PT Bina Pratama Sakato jaya dengan tidak menghulur-ulur waktu dan apabila tertunda pembayaran dikenakan denda 1 % dari nilai tuntutan dan sewa per/bulan.
Apabila PT Bina Pratama Sakato Jaya tidak melaksanakan kewajibannya, dihararapkan kepada Bapak Ketua Dewan yang terhormat melalui Komisi I DPRD Sumatera Barat dapat memutuskan untuk membuat Rekomendasi pembatalan HGU PT. Bina Pratama Sakato Jaya.
Karena Pt. Bina Pratama Sakato Jaya tidak beritikad baik pada masyarakat dan telah melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan Negara RI, termasuk menggarap dan mengolah Kawasan Hutan Lindung.
Demikian tuntutan ini kami sampaikan kepada Bapak Ketua DPR Sumbar melalui Ketua Komisi I Sumbar, kiranya harapan masyarakat terpenuhi. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati, memberikan Taufiq dan Hidayahnya kepada kita Semua. A m i n. Terima kasih.
Hormat kami yang mewakil masyarakat Kampung Surau
1. Jamaris 2.Mukhlis Glr Manti Panggulu, 3 Syamsurijal. 4. Mazni Anwar.
Hp. 082283177172 Hp.085263381392 Hp.081374363264 Hp. 085274562062
