Pemandangan di nagari Salayo kecamatan Kubung, Kabupaten Solok atau hanya berjarak 200 meter dari batas kota Solok, masih diselimuti kabut asap tebal
BIJAK ONLINE (SOLOK)-Beberapa pengusaha gilingan padi (huller) atau ricemilling yang ada di Kabupaten Solok, mengaku sepi dikunjungi para pengguna jasa gilingan padi, akibab banyak gabah masyarakat yang tidak kering, karena bumi bareh Solok dalam dua bulan terakhir diselimuti kabut asap tebal.
Selain itu, sepinya masyarakat menggunjungi jasa penggilingan padi, disebabkan banyaknya masyarakat yang gagal panen akibab tanaman padi mereka gagal panen, akibab diserang hama tikus dan doilanda kekeringan, sehingga sawah mereka jadi fuso atau gagal panen.
“Yang paling parah dalam satu bulan terakhir ini, dimana dalam satu hari kita bisa tidak melakukan penggilingan padi karena tidak adanya masyarakat yang datang untuk menggunakan jasa heler (huller) kita,” tutur Darmawan (56) salah seorang pengusaha yang sekaligus pemilik gilingan padi di jorong Pinang Sinawa, nagari Jawi-Jawi Guguk, kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Jum’at (9/10). Penyebab sepinya masyarakat atau toke beras yang datang melakukan penggilingan padi, disebabkan banyaknya padi yang tidak kering atau memang disebabkan padi masyarakat tidak ada yang akan digiling karena gagal panen.
Selain Darmawan, keluhan yang sama juga disampaikan Patra (55), warga nagari Cupak yang juga pengusaha huller. “Dek ndak ado nan kamanggiliang padi, tapaso awak duduak-duaduak se di lapau lai. Antah kabaa nasib awak kamungko, musibah kabut asap ko samakin parah indak amuah ilang,” tutur Patra dengan nada dan raut muka bertanda mengalami kekecewaan.
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Solok, Abdul Manan, mengaku memang kabut asap sudah parah di Kabupaten Solok, namun menurutnya pihak BMG Sumbar belum menyatakan status berbahaya dan KLB (wandy)
