BIJAK ONLINE (PADANG)-PSP Padang (Persatuan Sepak bola
Padang) yang didirikan 1928 dan berjuluk Pendeka Minang merupakan sebuah tim sepak bola Indonesia yang bermarkas
di Padang, Sumatera Barat. Klub ini memainkan pertandingan kandangnya di
Stadion Haji Agus Salim, Padang, berbagi dengan Semen Padang FC. Klub tersebut
saat ini bermain di Divisi Utama Liga Indonesia.
Kini, sejak PSP Padang di nahkodai, Mahyeldi Ansyurullah, yang juga Walikota Padang, nama PSP Padang kembali menjulang, dengan akan digelarnya pertandingan bergensi sepakbola memperebutkan Piala Walikota, yang konon sudah 20 tahun vakum atau matisuri. Pertandingan Piala Walikota berlangsung 4-8 Januari 2015.
Pertandingan, Piala Walikota 2015 diikuti enam tim, Selangor FC, Persib Bandung, Persiba Balik Papan, PS Semen Padang, Pusam Borneo FC dan PSP sebagai tuan rumah.
Kini, sejak PSP Padang di nahkodai, Mahyeldi Ansyurullah, yang juga Walikota Padang, nama PSP Padang kembali menjulang, dengan akan digelarnya pertandingan bergensi sepakbola memperebutkan Piala Walikota, yang konon sudah 20 tahun vakum atau matisuri. Pertandingan Piala Walikota berlangsung 4-8 Januari 2015.
Pertandingan, Piala Walikota 2015 diikuti enam tim, Selangor FC, Persib Bandung, Persiba Balik Papan, PS Semen Padang, Pusam Borneo FC dan PSP sebagai tuan rumah.
Menyebut nama PSP Padang (Persatuan Sepak bola Padang),
mengingat sejarah panjang persepakbolaan tanah air, sebab PSP Padang memang
bukan tim kemarin sore, Pandeka Minang (julukan PSP) terlahir lebih dulu dari
republik ini, pada tahun 1928.
Tahun 1928, dengan nama Sport Vereniging Minang (SVM) yang
diketuai oleh Dr. Hakim dalam ini bernaung organisasi sepak bola Padang yang
dikenal engan Ilans Padang Electal (IPE), yang menjadi cikal bakal lahirnya PSP
Padang
Usia IPE tiak berlangsung lama, karena Pemerintah Kolonial
Belanda kemudian mengubah dan membentuk organisasi pesepakbolaan Padang pada
tahun 1935 dengan nama Voetballbond Padang En Omstreken, masa ini diketuai oleh
orang Belanda yang "gila bola" yaitu Meneer Vander Lee. Masa meneer
ini pertandingan dimalam hari digelar di Lapangan Dipo (kini, Taman Buaya
Padang).
Seiring dengan gejolak politik dalam negeri, pada tahun
1942, Belanda menyerahkan kekuasaannya kepada Jepang. Aksi pertama Jepang
adalah membumihanguskan segala hal yang berbau Belanda, tak terkecuali VPO.
Keganasan negeri matahari terbit ini menyebabkan tak ada prestasi sepak bola
paddang yang mencuat baik secara tim maupun individu.
Kendati demikian, kehadiran Jepang itu ada hikmahnya. Ketika
itu St. Mantari bersama tokoh-tokoh sepak bola Padang lainnya berinisiatif
mengganti nama VPO menjadi Persatuan Sepak bola Padang, dan Yusuf St. Mantari
menjadi ketua umum pertama dengan nama PSP. Ternyata padda masa itu, Jepang
sama sekali tidak mengusiknya. dalam catatan itu pula nama PSP dipakai untuk
pertama kalinya.
Banyak Direkrut Timnas
Ismail Lengah muncul sebagai ketua umum periode 1950-1953
yang kemudian diteruskan oleh Ahmad Husein (1955-1957). Masa ini dibangun
Stadion Imam Bonjol yang merupakan stadion kebanggaan warga Padang.
Dekade 1953 ini, pemain yang memperkuat PSP menjadi pemain
yang bermaterikan tim PON III Sumatera Tengah di Medan berhasil mengukir
prestasi yang mengejutkan. Dengan materi Pemain Ahmad Terbang, Ibrahim Kijang,
Mahmud Endah, mereka berhasil merebut juara III di PON IV. Kala itu, Sumatera
Barat bernama Sumatera Tengah dan di PON IV pun pemain Paneka Minang
mendominasi skuad Sumatera Tengah dan berhasil mencapai final. Sayangnya, di
final, mereka ditaklukkan Sumatera Utara dengan skor 1-2.
Efeknya jelas, pada tahun 50-an, pemain PSP banyak dipanggil
untuk membela tim nasional, seperti Yus Etek, Mizarmi, Lim Tek An, dan Arifin.
Di era itu, PSP sering menjamu klub-klub asing, seperti klub
beken Austria, Salzburg FC, FC Lokomotiv Moskwa, Mozambik Afrika, dan klub Red
Star Belgrade asal Yugoslavia yang pernah juara Liga Champions UEFA pun pernah
datang.
Pada tahun 1953-1959, persepakbolaan terhenti karena
terjadinya gejolak PSSI. Baru pada tahun 1959-1966, PSP Padang kembali
melahirkan pemain yang membela Merah Putih. Selain Yus Etek yang masih
bertahan, muncul nama-nama baru seperti Sagar Koto, Zulfar Djeze dan Oyong
Liza, kapten timnas di era itu, yang menjadi andalan timnas.
PSP Padang mengikuti turnamen HUT PSSI di Jakarta pada tahun
1982. PSP dimotori Suhatman Imam dengan pemain lainnya seperti Marvin Efeni,
Arif Pribadi dan Tukijan. Hasilnya tidak mengecewakan, PSP mampu menjadi
kampiun pada turnamen yang diselenggarakan badan sepak bola tertinggi di
Inddonesia itu setelah menundukkan PSA Ambon 3-2. Tropi plus sebuah mobil
dibawa pulang ke Padang.
Masih pada tahun 1980-an, persisnya di era kepemimpinan
Syahrul Ujud (walikota Padang waktu itu), kali pertama PSP masuk ke Divisi
Utama. Pada tahun itu pula berdiri stadion yang iberi nama Stadion Agus Salim
yang merupakan bekas arena pacuan kuda.
PSP diarsiteki oleh Jeniwardin (1986-1987). Sayangnya, PSP
tak mampu mengimbangi tim-tim perserikatan lainnya. Alhasil, tim PSP yang
bermaterikan permain seperti: Dahlan, Mai, Aldi Hendra Susila dan Delvi Adri
menemui nasib tragis, terlempar ke Divisi I.
Perubahan-Perubahan Nama.
IPE (Illans Padang Electal) 1928-1935 (IPE adalah bagian
dari SVM (Sport Vereniging Minangkabau atau Ikatan Olahraga Minangkabau))
VPO (Voetballbond Padang en Omstreken) 1935-1942
SP (Persatuan Sepak bola Padang) 1942-sekarang. (yal Aziz/berbagai sumber)
