JUJUR, saya merasa seakan-seakan mendapat durian runtuh, begitu Prof DR H Irawan Prayitno Psi Msc  berkenan datang berkunjung ke Posko Bara Online Media, Sabtu 12 Oktober 2015 lalu. Kenapa? Karena dari kunjungan mantan Gubrnur Sumbar periode 2010-2015 tersebut, banyak cerita yang sekaligus menjawab berbagai tuduhan negatif terhadap putra Teratak Paneh Kecamatan Kuranji ini, yang sengaja dihembuskan lawan politiknya di Pligub Sumbar serentak, yang finalnya, 9 Desember 2015 mendatang.

Salah satu tuduhan negatif yang terjawab dari Irwan Prayitno adalah tentang informasi yang sengaja dihantamkan kepada mantan anggota DPR RI tiga periode ini masalah rencana pembangunan Super Blok Siloam.  Tuduhan negatif tersebut, dikatakan Prof Irwan Prayitno ikut mendukung pembangunan yang sempat menghebohkan Ranah Minang dengan persoalan kristenisasi. 

Yang hebatnya lagi tuduhan itu dilengkapi dengan foto Prof IP lagi berpidato di podium dan ikut menekan tombol sirine sebagai salah satu pertanda dimulainya pembangunan Super Blok Siloam. 

Sebagai orang yang dituduh ikut mendukung, ternyata Prof Irwan Prayitno menjawab secara lugas dan tegas informasi negatif tersebut. Katanya, tuduhan itu sangat kontradiktif dengan tuduhan yang menyebutkan dirinya juga ikut menolak pembangunan Super Blok Siloam dan faktanya bisa dilihat di yuotobe tentang pernyataan mantan Walikota Padang, Fauzi Bahar yang berkomentar kurang terpuji. Jadi masyarakat bisa saja menilai dan memahami, ada dua logika yang berbeda dalam satu persoalan, yakni satu dikatakan mendukung dan satu logika lagi menolak.

Persoalan yang sebenarnya, kata Irwan Prayitno, dirinya sebelumnya tak tahu menahu tentang akan ada acara peresmian Super Blok Siloam. Sebab sehari sebelum peresmian dirinya berada di Jakarta. Kemudian dirinya diberitahu ajudan dan protokoler, bahwa acara peresmian dihadiri, Ketua DPD RI Irman Gusman, Agung Laksono, mantan Gubernur Sumbar Ir Azwar Anas dan menteri. Jadi, kehadirannya lebih menghormati pejabat yang menghadiri acara tersebut.

Kemudian lagi, kata Irwan Prayitno, sebagai Gubernur Sumbar waktu itu, dirinya juga tak punya kewenangan untuk memberikan izin, baik itu masalah izin amdal, maupun izin bangunan atau IMB. Sedangkan yang punya kewenangan adalah Walikota Padang dan selanjutnya,  Walikota Padang tidak pula diharuskan melaporkan masalah IMB tersebut kepada gubernur. Jadi sangat aneh dan lucu, dirinya dituduh ikut mendukung pembangunan Super Blok Siloam.

Sedangkan mengenai aksi demo yang dimulai dari halaman Kantor Gubernur Sumbar, kata Irwan Prayitno, hanya secara kebetulan, karena setiap tanggal 17 ada acara apel bagi seluruh PNS yang bertugas di jajaran kantor gubernur.  

Setelah apel, masa demonstran langsung meransek masuk dan menaiki mimbar upacara dan langsung berkomentar. Jadi, mimbar yang ada di halaman Kantor Gubernur Sumbar itu, tak ada kaitannya dengan dukungan terhadap demonstran. 

Kemudian mengenai adanya mobil pakai striker partai PKS, kata Irwan Prayinto, itu pun secara kebetulan, karena saat itu bersamaan pula dengan kampanye kader PKS yang akan mendukung Mahyeldi maju sebagai calon Walikota Padang. Jadi, informasi tentang dukungannya itu juga tak benar.

Yang menariknya lagi, Irwan Prayitno memaafkan perkataan kurang terpuji dari Fauzi Bahar dan menilai persoalan itu bahagian dari politik dan dinamikanya dalam berpolitik. Baginya, apapun bentuk fitnah dan hujatan tak akan dibalasnya pula dengan fitnah dan hujatan. Biarlah masyarakat yang menilainya. Yang penting kita selalu berpegang pada jalan Allah dan menjadikan jabatan sebagai amanah dan ibadah. (Penulis wartawan Tabloid Bijak dan Padangpos.com)

google+

linkedin