TULISAN ini bersumber dari dialog Basril Djabar dengan Irsad Sati di media sosial facebook tentang pemilihan Gubernur Sumatera Barat.  Share Basril Djabar di statusnya menarik juga untuk disimak dan dikaji, serta dianalisa.

Sebagai  gambaran sekilas, bahwa Basril Djabar dilahirkan  di Dangung-dangung, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 21 April 1943; umur 72 tahun. Basril Djabar Seorang seorang wartawan dan pengusaha asal Ranah Minang. Nyali bisnis Basril Djabar telah dilakoninya, sejak bersatus sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang.

Pada tahun 1969, Basril Djabar  mendirikan Hharian Singgalang, dan hingga saat ini media tersebut merupakan salah satu koran dengan oplah terbesar di Sumatera.

Sedangkan lawan dialognya di media sosial bernama Irsad Sati yang di status akunya, menyebutkan dirinya tukang kaba di Bisnis Indonesia Daily.

Tabloid Bijak dan Tabloidbijak.com yang tampil didunia maya tertarik juga dengan dialog antara Basril Djabar dengan Irsad Sati, sehingga dikemaslah goresan pemikirannya di dalam sebuah tulisan yang isinya;

PADA dasarnya semua calon yang ada sekarang berhak jadi gubernur. Ada yang terbaik di antara mereka. Kita tahu itu. 

Tapi sekali lagi, dari hasil beberapa survei, posisi-posisi  mereka semua membaik tergantung Pada pendekatannya pada rakyat bukan karena cerita elit. Langkah yang bisa kita ambil adalah memebeberkan kriteria calon pemimpin. 

Kemudian jika orang sesuai kriteria itu yang  terpilih,  selesai satu soal. Jika tidak, maka harus dikawal. Seluruh komponen yang peduli harus "memaksa" si gubernur untuk  mau menerima masukkan dari kita sebagai rakyatnya. Kesimpulannya, kita tidak bisa menolak satu calon dan mendukung satu calon, kecuali memang kita sepakati bersama.

Era Sumbar dapat dibagi dua, era pasca PRRI (di dalamnya ada orde baru) Dan era reformasi. Ini dua zaman yang berbeda. 

Memandang Sumbar tidak bisa dari masa lampau saja, juga tak bisa dari masa sekarang saja. Harus dua-duanya.  

Di era lampau sudah saya ulas sedikit, di eraa reformasi sedikit. Sekrang kita mau memilih gubernur, Irsad sati meminta kita jangan salah pilih. Kita dimaksud bukan elit saja tapi seluruh pemilih di Sumbar. 

Rerata pengetahuan politik kita tidak sama. Bagus oleh elit belum tentu bagus oleh rakyat, dan sebaliknya. 

Menurut survei sekitar 90 persen rakyat pemilih pernah menerima imbalan jelang pilkada dari para calon. 

Bagaimana menghabisi Ini? Setiap pilkada baik gubernur  walikota selalu elit menyusun kriteria-kriterai  pemimpin yang diingini, lalu disiarkan oleh seluruh media tapi di lapangan tidak begitu jadinya. 

Rakyat punya hak dan caranya sendiri dalam memilih, salah caranya benar caranya, biasanya terpengaruh oleh kesukaannya pada si calon. Karena itu menurut saya, kita tidak bisa secara absolut menentukan "Harus Ini yang menang" Karena kita elit maka yang bisa dilakukan berjuang dan siapa yang menang itulah pemimpin Sumbar. 

Kepada yang menang itu kita pasakkan ke telinganya harapan-harapan kita. Elite di Sumbar tak pernah berdiskusi lagi, sibuk sendiri-sendiri. Dimulai diskusi belum terlambat dan saya dengar sudah  dimulai oleh sejumlah elit muda seperti ucok, miko, KJ, Asrinaldi,dll. (Ditulis Basril Djabar di Face Book)

google+

linkedin