JUDUL tulisan ini memang sengaja saya buat;"Seandainya saya Syafrizal Ucok." Kenapa? Karena Syafrizal Ucok yang sampai sekarang masih dipercaya oleh Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno sebagai Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Sumatera Barat, akan maju sebagai salah seorang kandidat bakal calon bupati, di Pilkada Pesisisr Selatan, Desember 2015 yang akan datang.

Secara politis,  memang keinginan Syafrizal Ucok untuk maju sebagai salah seorang bakal calon bupati lebih didorong oleh berbagai elemen masyarakat, seperti para ninik mamak, cerdik pandai, kalangan pemuda,  berbagai LSM dan termasuk wartawan.

Kemudian, jika dilihat dari bakal kompetitor dengan beberapa sosok dan figur di Pilkada Pessel yang telah diapungkan dan digadang-gadangkan oleh masyarakat melalui berbagai media, baik cetak, elektronik dan portal berita, memang Syafrizal Ucok masih di atas angin. Bahkan, begitu Syafrizal Ucok menyatakan diri untuk maju di Pilkada Pessel, dukungan setiap hari datang kian deras, karena sosok Syafrizal Ucokbagi masyarakat Pessel sudah tak asing lagi, karena pernah menjadi Kepala Dispenda dan Wakil Bupati Pesisir Selatan 2005-2010.

TAPI KALAU saya Syafrizal Ucok, saya tidak akan maju sebagai bakal calon di Pesisir Selatan. Kenapa? Karena secara kajian ekonomis tidak menguntungkan dan bahkan merugikan secara karier seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). 

Kerugian tersebut karena sebagai seorang PNS, Syafrizal Ucok masih punya masa aktif untuk pengabdiannya sekitar 7,5 tahun lagi dan masih dalam posisi sebagai pejabat BPM Sumbar dan berkemungkinan punya peluang menjadi Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, karena rekam jejaknya di kepemerintahan sudah punya bergudang pengalaman, dan kariernya di mulai dari bawah. Alasan bisa jadi sekda, karena  secara fakta, dari sekian banyak pejabat dilingkungan Kantor Gubernur Sumatera Barat, hanya Syafrizal Ucok yang punya pengalaman di kepemerintahan.

Kalau berbicara masalah pendapatan atau uang yang diterimnya setiap bulan  sebagai penjabat bisa-bisa berkisar Rp 40 juta perbulan dari akumulasi, tunjangan daerah, gaji dan pendapatan lain sebagai Pejabat Pengguna Anggaran (PA) Di BPM Sumbar. Jika pendapatan tersebut ditambah dengan uang jalan, bisa Syafrizal Ucok menerima gaji Rp 50 juta. Jadi jika dikalikan 12 bulan dan dikalikan RP 50 juta, maka pendapatan Syafrizal Ucok Rp 600 juta atau Rp 500 juta. 

Jika pendapatan Rp 600 juta setahun, dikalikan tujuh tahun, maka pendapatan Syafrizal Ucok bisa-bisa Rp 4,2 miliar. Rasanya uang sebanyak itu sudah bisa memberikan ketenangan baginya menikmati masa tua atau pensiun. Kemudian, istrinya juga seorang PNS dan anaknya paling tua, sekarang bertugas di Pesisir Selatan, sebagai salah seorang sekcam dan anaknya yang paling bungsu masih kuliah di jakarta. 

Apalagi kini, untuk maju di Pilkada Pessel memerlukan dana sekitar Rp 20 miliar, karena sekarang ini masyarakat hanya akan memilihan bakal calon yang memberikan mereka uang. Soalnya, setelah sesorang menjadi bupati, kecundrungan melupakan janji-janji dan mimpi yang telah ditaburnya di tengah masyarakat.

Jadi, sangat merugikan Syafrizal Ucok untuk maju sebagai salah seorang bakal calon di Pesisir Selatan. Apalagi langkah maju itu konsekwensinya harus berhenti dulu sebagai seorang PNS. Sementara peluang untuk menang, memang ada, tetapi belum pasti. Dari pada mempertaruhkan keberuntungan dengan yang belum pasti, lebih baik menjadi pnonton di Pilkada Pessel. Kenapa? Karena membangun Pesisir Selatan tidak harus menjadi bupati. (Penulis Waratwan Bijak dan Padang Pos).

google+

linkedin