JUJUR, saya kaget dan tak habis pikir, serta bertanya-tanya dalam hati tentang kealpaan atau ketidakikutsertaan Pencab Pelti Kota Padang, di Porprov Sumbar XIII, yang dijadwalkan berlangsung, 13 sampai 23 Desember 2014 mendatang di Kabupaten Dhamasraya, yang baru saja dimekarkan. Padahal, Porprov Sumbar yang akan menghadirkan gubernur, wakil gubenur, serta petinggi di Rumah Bagonjong tersebut, termasuk tolak ukur atau barometer tentang keberhasilan dalam pembinaan atlet.
Jadi sangat aneh atau tak masuk diakal rasanya, kalau ada pengurus cabang maangkek tangan alias menyerah dan sekaligus mambana , karena tak bisa mengirimkan atletnya untuk berlaga di event yang bergensi untuk Sumatera Barat. Apalagi Porprov itu sebagai tolak ukur keberhasilan pembinaan olahraga di berbagai daerah di seluruh daeah tingkat dua Sumatera Barat.
Sedangkan mengenai rasa kaget saya itu karena yang menjadi Ketua Pengcab Pelti Kota Padang itu, Drs Nasir Ahmad Msi yang sekarang lagi menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kota Padang, yang jabatannya itu bergensi dan punya power, serta bisa merangkul berbagai kalangan yang maniak olahraga tenis, yang termasuk olahraga bergengsi di tanah air dan Ranah Minang.
Kemudian saya bertanya-tanya dalam hati, karena alasan kealpaan Ketua Pengcab Pelti Padang mengirim atlet karena tak ada petenis binaan. Lantas timbul pertanyaan saya, apa saja yang diurus
Pengcab Pelti Padang sejak jadi pengurus? Padahal, jadi pengurus itu tugas pokoknya mengurus atlet dengan tetek bengeknya, dengan tujuan prestasi atau medali emas diberbagai turnamen, baik lokal, nasional, bila perlu internasional.
Untuk dimaklumi, jadi atlet itu tidak mudah dan memerlukan semangat perjuangan, biaya yang sangat besar, baik untuk biaya transportasi ketika mau latihan, maupun gizi serta vitamin-vitamin untuk mendukung kekuatan stamina.
Kita bisa membanyangkan dan memperkirakan berapa biaya untuk menjadi atlet tenis lapangan. Yang pertama uang untuk membeli raket, sepatu, baju, kaos kaki, tas dan bola tenis. Jadi, untuk menjadi atlet itu memerlukan dana yang cukup besar, jika ingin berprestasi nasional dan internasional.
Khsusus olahraga tenis, sebenarnya saya sempat melihat, membaca dan mencatat surat yang dilayangkan Ketua Pengcab Pelti Kota Padang ke KONI Sumbar, tetanggal 1 September 2014 yang ditandatangani langsung oleh Drs Nasir Ahmad, Msi. Setelah membaca dan mencatat bagian-bagian yang penting dari surat tersebut, saya terenyuh dan tak menyangka ada hubungan yang kurang harmonis antara Ketua Pengcab Pelti Padang dengan pelatih tenis dan orang tua atlet.
Tanpa bermaksud membela pelatih, atlet dan orang tuanya, yang jelas apa yang dimintanya kepada pengurus pelti, merupakan hal yang wajar sekali, karena yang mereka minta merupakan hal yang sangat prinsip, yakni masalah biaya latihan dan uang transportasi.
Tanpa bermaksud memojokan Ketua Pengcab Pelti Kota Padang, apa yang diminta atlet dan pelatihnya, tidaklah hal yang muluk-muluk atau hal yang tak masuk akal. Kalau masalah besarnya biaya yang mereka minta, memang biaya mereka berlatih sudah tak terhitung lagi nilainya, kalau diukur dari kondisi dan keadaan keuangan pelatih dan atlet.
Kemudian, saya melihat ada unsur ketidaksenangan dengan pengurus Pengcab Pelti Kota Padang, yang hanya baru tahu dan perlu disaat mereka dibutuhkan untuk membela nama baik pengurus dan Kota Padang. Sementara selama ini, para pengurus tak ada yang peduli dengan mereka. Jangankan membantu biaya latihan, menegur dan bertanya pun tidak sama sekalai.
Jadi kalau kini mereka enggan memperkuat Kontingen Kota Padang melalui cabang olahraga tenis, yang namanya prestasi mereka tetap akan berkibar, karena masih banyak daerah tingkat dua lainnya yang memperhatikan mereka sejak enam tahun lalu. Jadi kalau dikatakan atlet tenis itu tak ada kecintaannya kepada daerah dimana mereka berdomisili dan bersekolah, tak pulalah bisa mereka disalahkan. Sebab, isi surat Ketua Pengcab Pelti Padang, menilai permintaan atlet terlalu metralitis dan menilai, jika segalanya uang, berarti kita telah mendidik dan menanamkan kepribadian yang kurang baik.
Mengenai isi surat Pengcab Pelti Padang, yang katanya akan melakukan pembinaan yang terprogram dan berkisinambungan, baik atlet maupun pelatih dimasa yang akan datang, rasanya ungkapannya tersebut ibarat orang sedang bermimpi sambil duduk. (penulis wartawan tabloidbijak)
Jadi sangat aneh atau tak masuk diakal rasanya, kalau ada pengurus cabang maangkek tangan alias menyerah dan sekaligus mambana , karena tak bisa mengirimkan atletnya untuk berlaga di event yang bergensi untuk Sumatera Barat. Apalagi Porprov itu sebagai tolak ukur keberhasilan pembinaan olahraga di berbagai daerah di seluruh daeah tingkat dua Sumatera Barat.
Sedangkan mengenai rasa kaget saya itu karena yang menjadi Ketua Pengcab Pelti Kota Padang itu, Drs Nasir Ahmad Msi yang sekarang lagi menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kota Padang, yang jabatannya itu bergensi dan punya power, serta bisa merangkul berbagai kalangan yang maniak olahraga tenis, yang termasuk olahraga bergengsi di tanah air dan Ranah Minang.
Kemudian saya bertanya-tanya dalam hati, karena alasan kealpaan Ketua Pengcab Pelti Padang mengirim atlet karena tak ada petenis binaan. Lantas timbul pertanyaan saya, apa saja yang diurus
Pengcab Pelti Padang sejak jadi pengurus? Padahal, jadi pengurus itu tugas pokoknya mengurus atlet dengan tetek bengeknya, dengan tujuan prestasi atau medali emas diberbagai turnamen, baik lokal, nasional, bila perlu internasional.
Untuk dimaklumi, jadi atlet itu tidak mudah dan memerlukan semangat perjuangan, biaya yang sangat besar, baik untuk biaya transportasi ketika mau latihan, maupun gizi serta vitamin-vitamin untuk mendukung kekuatan stamina.
Kita bisa membanyangkan dan memperkirakan berapa biaya untuk menjadi atlet tenis lapangan. Yang pertama uang untuk membeli raket, sepatu, baju, kaos kaki, tas dan bola tenis. Jadi, untuk menjadi atlet itu memerlukan dana yang cukup besar, jika ingin berprestasi nasional dan internasional.
Khsusus olahraga tenis, sebenarnya saya sempat melihat, membaca dan mencatat surat yang dilayangkan Ketua Pengcab Pelti Kota Padang ke KONI Sumbar, tetanggal 1 September 2014 yang ditandatangani langsung oleh Drs Nasir Ahmad, Msi. Setelah membaca dan mencatat bagian-bagian yang penting dari surat tersebut, saya terenyuh dan tak menyangka ada hubungan yang kurang harmonis antara Ketua Pengcab Pelti Padang dengan pelatih tenis dan orang tua atlet.
Tanpa bermaksud membela pelatih, atlet dan orang tuanya, yang jelas apa yang dimintanya kepada pengurus pelti, merupakan hal yang wajar sekali, karena yang mereka minta merupakan hal yang sangat prinsip, yakni masalah biaya latihan dan uang transportasi.
Tanpa bermaksud memojokan Ketua Pengcab Pelti Kota Padang, apa yang diminta atlet dan pelatihnya, tidaklah hal yang muluk-muluk atau hal yang tak masuk akal. Kalau masalah besarnya biaya yang mereka minta, memang biaya mereka berlatih sudah tak terhitung lagi nilainya, kalau diukur dari kondisi dan keadaan keuangan pelatih dan atlet.
Kemudian, saya melihat ada unsur ketidaksenangan dengan pengurus Pengcab Pelti Kota Padang, yang hanya baru tahu dan perlu disaat mereka dibutuhkan untuk membela nama baik pengurus dan Kota Padang. Sementara selama ini, para pengurus tak ada yang peduli dengan mereka. Jangankan membantu biaya latihan, menegur dan bertanya pun tidak sama sekalai.
Jadi kalau kini mereka enggan memperkuat Kontingen Kota Padang melalui cabang olahraga tenis, yang namanya prestasi mereka tetap akan berkibar, karena masih banyak daerah tingkat dua lainnya yang memperhatikan mereka sejak enam tahun lalu. Jadi kalau dikatakan atlet tenis itu tak ada kecintaannya kepada daerah dimana mereka berdomisili dan bersekolah, tak pulalah bisa mereka disalahkan. Sebab, isi surat Ketua Pengcab Pelti Padang, menilai permintaan atlet terlalu metralitis dan menilai, jika segalanya uang, berarti kita telah mendidik dan menanamkan kepribadian yang kurang baik.
Mengenai isi surat Pengcab Pelti Padang, yang katanya akan melakukan pembinaan yang terprogram dan berkisinambungan, baik atlet maupun pelatih dimasa yang akan datang, rasanya ungkapannya tersebut ibarat orang sedang bermimpi sambil duduk. (penulis wartawan tabloidbijak)
