BIJAK ONLINE (Kota Pariaman)—Sebanyak tiga puluh tiga orang rombongan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kota Pariaman, menghadiri dakwah wisata (wirid pengajian bulanan) di Tanah Datar, Batu Sangkar, Sabtu (16/5/2015).
Rombongan langsung dipimpin Ketua BKMT Kota Pariaman, Dra. Hj. Mahyareti dengan Sekretarisnya, Dra. Hj. Rakiyah, kepada wartawan Bijak Online Rakiyah menuturkan, Dakwah Wisata dan bisa juga disebut pengajian bulanan yang dilaksanakan secara bergilir pada setiap kabupaten/kota se Sumbar.
“In syaa Allah, Kota Pariaman, akan mendapat giliran, habis lebaran bulan Juli 2015”, tutur Rakiyah menimpali.
Dikatakan, cukup menggembirakan dalam perkembangan dakwah dan pendidikan Islam di tengah-tengah masyarakat muslim adalah tumbuh suburnya majelis taklim. Baik di perkotaan maupun di pelosok-pelosok desa dan kampung, banyak muncul kegiatan pendidikan Islam nonformal ini.
Lebih jauh dituturkan, Keberadaan majelis taklim bersanding dinamis bersama lembaga sejenis seperti pesantren (dayah), diniyah, TPA/TPQ, dan balai pengajian. Melalui aktifitas yang dilakukakannya, majelis taklim ikut serta memberikan sumbangsihnya bagi pencerdasan mental spiritual umat Islam.
Menurut Rakiyah, majelis taklim pada umumnya lahir dan tumbuh dari masyarakat, terutama masyarakat muslim yang mempunyai perhatian terhadap pendidikan Islam. Masyarakat sebagai pendiri majelis taklim dapat berupa individu, pengurus masjid atau mushalla, kalangan profesi, organisasi keagamaan, atau kelompok masyarakat lainnya. Pengelolaannya bisa di bawah koordinasi lembaga masyarakat, instansi, atau lembaga majelis taklim itu sendiri.
Kedepab, sudah saatnya majelis taklim menerapkan manajemen berbasis masyarakat (MBM), yaitu suatu upaya pengkoordinasian dan penyerasian sumberdaya yang dilakukan oleh majelis taklim dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan majelis taklim secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk meningkatkan kualitas dan untuk mencapai tujuan majelis taklim dalam kerangka pembangunan masyarakat muslim pada umumnya.
Selain adanya upaya pembinaan-pembinaan yang diharapkan dari pemerintah, untuk lebih mandirinya suatu majelis taklim, maka tidak kalah pentingnya upaya pelibatan dan campur tangan masyarakat itu sendiri demi eksisnya majelis taklim.
Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan majelis taklim bersifat mutlak, karena tanpa dukungan masyarakat keberadaan majelis taklim tidak ada artinya. Hanya saja, sejauhmana masyarakat terlibat dan dilibatkan dalam majelis taklim, apakah hanya sekadar sebagai jamaah, sementara terkait dengan pengambilan kebijakan dan pengelolaan mereka diabaikan.
Perhatian pemerintah tentunya harus lebih terfokus dalam upaya menjadikan majelis taklim menjadi lebih mandiri dan berdaya guna dalam kegiatan dakwah Islam secara umum dan pendidikan umat Islam secara khusus.
Untuk lebih mengoptimalisasikan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt, berakhlak mulia, cerdas dan semakin taat terhadap ajaran agamanya. Semakin meningkat ibadahnya kepada Allah swt (habluminallah) dan semakin mantap dalam ukhuwah-nya dengan sesama (habluminannas). (amir
