BIJAK ONLINE (SOLOK)-Sekretaris Daerah Kabupaten Solok, M. Saleh, menjedi Inspektur Upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (HPN), tingkat Kabupaten Solok, yang berlangsung di GOR Batu Batupang, Sabtu (2/5).
Selain Sekdakab, tampak hadir pada acara peringatan HPN tersebut adalah Ketua DPRD Kab.Solok, Hardinalis, SE, MM, Unsur Muspida dan Muspika, para Kepala SKPD yang ada di Kabupaten Solok serta Guru dan Para Murid SD, SMP dan SMA se Kabupaten Soilok.
Dalam sambutannya, M. Saleh menyampaikan bahwa para pendidik yang ada di Kabupaten Solok, untuk semua tingkatan, sudah bekerja keras membangkitkan potensi peserta didik untuk menjadi manusia berkarakter dan mulia. “Indonesia adalah negeri penuh berkah, di tanah ini rantingpun bisa tumbuh menjadi pohon yang rindang, alam subur, laut melimpah, apalagi bisa melihat mineral, minyak, gas, hutan, dan semua deretan kekayaam alam. Tuhan memberikan kekayaan kepada negeri ini, meski belum kita kelola secara sempurna,” tutur M. Saleh.
Dijelaskannya, manusia yang terdidik adalah kunci kemajuan bangsa. Secara konstitusional, mendidik adalah tanggung jawab negara, namun secara moral mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. “Kata kunci dari tema tersebut adalah ‘gerakan’ pendidikan harus dipandang sebagai ikhtiar kolektif seluruh bangsa,” tutur Sekda.
Lebih jauh dijelaskan M. Saleh, Otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem negara kesatuan republik indonesia. Kebijakan otonomi daerah kedepan menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan di tengah-tengah kemajemukan ditingkat lokal, regional, dan nasional.
“Otonomi daerah mendorong munculnya para pemimpin daerah yang kapabel dan akseptabel melalui pemilihan kepala daerah secara langsung,” tambahnya. Pada tanggal 23 April diperingati sebagai hari buku sedunia, world book day (hari buku sedunia) yang dirancang oleh UNESCO, adalah sebuah perayaan buku dan literasi yang diadakan setiap tahun diseluruh dunia.
Dijelaskan Sekda, Indeks minat baca di indonesia baru mencapai 0,001 artinya dalam setiap 1.000 orang hanya ada satu orang yang punya minat membaca, sedangkam UNDP meliris angka melek hirif orang dewasa indonesia hanya 65,5 persen, sementara malaysia sudah mencapai 86,4 persen (wandy)