PADA acara peluncuran Buku Menanti Maut karya terakhir wartawan senior H Marthias Dusky Pandoe, Sabtu, 9 Mei di Hotel Pangeran Beach Kota Padang, saya bertemu dengan mantan ketua PWi Sumbar, Mufti Syarfi yang juga pentolan di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Barat.

Setelah kami berdua berbicara masalah sosok almarhum pak Pandoe, kemudian  saya bertanya tentang persiteruan Partai Golkar. Kesimpulan dari dialog tersebut, Partai Golkar kubu Agung Laksono yang telah mengantongi SK Menkumham, punya hak mengikuti pilgub Sumbar. Alasannya, karena SK Menkumham berdasarkan hasil dari penyelesaian di Mahkamah Partai Golkar yang keputusannya final dan mengikat.

Terlepas dari persiteruan Agung dan Ical di PTUN atau dijalur hukum, KPU Sumbar tetap akan mengacu kepada SK Menkumham, sesuai dengan aturan dan undang-undang. "Kalau tak percaya atau masih ragu-ragu, tanya langsung dengan prof Yusril," kata  Mufti Syarfi sembari menambahkan, informasi diberbagai media, faktanya ditulisnya sepotong-sepotong dengan tujuan politik.

Bertitik tolak dengan SK Menkumham tersebut, wajar saja jika sebelumnya telah muncul bisik-bisik kader Golkar kubu Agung yang mempergunjingkan sosok Yan Hiksas akan berpasangan dengan politisi dari Partai Demokrat, Mulyadi yang sekarang menjadi angota DPR RI.

Dasar pemikiran memasangan Yan Hiksan Partai Golkar dan Mulyadi dari Partai Demokrat, karena kedua sosok figur politisi ini masih muda dan energik dan komunikatif dan rajin turun untuk berdialog dengan masyarakat.

Yan Hiksas punya latar belakang pendidikan pesantren Thawalib Padang Panjang, yang didirikan oleh orangtua Buya Hamka. Kemudian Yan Hiksan punya basis ekonomi sebagai pengusaha yang pernah menimba ilmu di Negara Sakura Jepang dan kini menjadi Ketua Alumni Thawalib Padang Panjang.

Cara berpolitik Yan Hiksas pun banyak yang menilai santun dan senang melakukan dialog dengan tokoh seperti dari LKAAM dan MUI Sumbar untuk minta nasehat dan petunjuk sebagaimana telah dilakukannya setelah mendapat mandat kubu Agung Laksono sebagai pelaksana tugas DPD Partai Golkar Sumbar. 

Sedangkan Ir Mulyadi,  sebelum juga telah disebut-sebut  bakal maju sebagai calon Gubernur Sumbar. Bahkan,  Ketua Komunitas Muda Bukittinggi (KMB-), Rocky Fernando menilai Pilgub Sumbar bakal seru. 

Jika dilihat dari perolehan suara, Mulyadi  paling tinggi dari politisi yang lain di Pemilu Legislatif lalu. Jadi Mulyadi sudah mempunyai modal, karena punya basis dan tingkat elektabilitasnya sudah terukur.  Jadi mengusung Yan Hiksas dengan Mulyadi sudah sangat tepat.

Lantas timbul pertanyaan, siapa yang jadi calon gubernur dan siapa pula yang jadi wakil gubernur. Jawabannya, bisa jadi Yan Hiksa dan bisa jadi Mulyadi. (Bersambung)

google+

linkedin