BIJAK ONLINE (SOLOK)-Musuh utama petani padi seperti hama tikus, dalam satu bulan terakhir mulai menyerang tanaman padi masyarakat di kecamatan Gunung Talang dan Kubung. Meski serangan hama tikus tidak separah tahun 2013 silam, namun beberapa petani padi di Gunung Talang mengaku mengalami kerugian, akibab diserang hama pengerat tersebut.
“Serangan hama tikus, memang tidak separah dua tahun lalu. Tetapi akibab serangan tersebut, kami sebagai petani jelas merugi karena kami hanya bisa menikmati panen separoh saja jika dibanding panen sebelumnya,” ujar Hajjah Rosna (50), seorang petani padi di jorong Panarian, nagari Talang, kecamatan Gunung Talang, Kamis (7/5).
Dijelaskan Hajjah Rosna, jika tanaman padinya tidak diganggu hama tikus, maka setiap kali panen bisa menghasilan 1200 sukat. Namun akibab serangan hama tersebut, dirinya hanya bisa panen separohnya saja. Selain tanaman padi miliknya, beberapa sawah tetangga yang berdekatan dengan sawah Hajjah Rosna, juga diserang hama tikus.
Selain di Gunung Talang, beberapa sawah petani di jorong Pinang Sinawa, nagari Gantung Ciri, kecamatan Kubung, juga terkena serangan hama tikus. “Waktu kecil musuh tanaman padi kami adalah keong emas. Namun setelah sebulan menjelang panen, tanaman padi kami diserang hama tikus, sehingga kami mengalami dua kali kerugian,” tutur Ijuh (44), warga Sungai Sariak, Pinang Sinawa Gantung Ciri.
Keluhan yang sama juga disampaikan Gindo (50), seorang petani di jorong Pakan Jum’at, nagari Jawi-Jawi, kecamatan Gunung, bahwa dalam waktu dua bulan terakhir, beberapa petak tanaman sawahnya juga mulai dirusak hama tikus, termasuk sawah tetangga disekitarnya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Ir, Iryani, mengaku memang sudah mendapat laporan dari petugas lapangan tentang serangan hama tikus itu. “Namun sesuai laporan yang kami terima, kerusakan tanaman padi masyarakat, alhamdulillah memang tidak separah beberapa tahun lalu. Untuk mengatasinya, makanya kami gigih mensosialisasikan kepada masyarakat, agar melakukan tanam serentak dan membersihkan lahan persawahan,” tutur Iryani (wandy/joko/rix)
