MENDAPAT jawaban melalui media sosial facebook, dari Mery teman Anisa, membuat Satria galau dan membalas koment si Mery.
"Mery, apa bisa bantu ajo," koment Satria.
"Bantu apo tu jo," komen Mery singkat.
"Bantu sampaikan pesan ajo pada Anisa," jawab Satria.
"Apo pasannyo tu jo," jawab Mery.
"Tolong sampaikan kepada Anisa, bisuak jam 10 pagi ajo tunggu di kampus di cafe dakek fakultas kedokteran," koment Satria.
"Yo lah jo, beko Mery sampaikan pasan ajo tu," balas komen Mery.
SESUAI perjanjian, Satria dengan berpakaian baju putih dan celana jeans telah duduk menunggu di Anisa di cafe yang dijanjikan. Tapi setelah satu jam menunggu, si Anisa yang diharapkan datang, tak juga muncul.
Dalam kondisi galau dan gelisah itu, si Satria langsung saja beranjak dari tempat duduknya untuk membayar teh manis dan dua bakwan kepada pemilik cafe. Tapi disaat dia menerima pengembalian uang, datang temannya si Riky dan langsung bersalaman dan menyapa.
"Mau kemana kau Satria, kok kelihatan gelisah," sapa Riky.
"Biasa, mau ke fakultas mengikuti kuliah," kata Satri singkat.
"Kuliah apaan, jam segini, kuliahnya kan jam 13.30 WIB," kata Riky dengan pertayaan.
"Maksud saya mau ke perpustakaan dulu," kata Satria sembari mau keluar dari cafe.
"Oh gitu ya, eeh Satria, aku dengar kamu lagi bermasalah dari pacar kamu Anisa," kata Riky memancing pembicaraan.
"Ah, kata siapa, biasa-biasa dan ndak ada masalah dan kamu dapat informasi dari siapa," balas Satria.
"Dari si Mery, tadi malam di fecabook," kata Riky sembari mengiringi langkah Satria keluar dari cafe.
TANPA menghiraukan pertanyaan kawannya si Riky, si Staria langsung saja menuju parkir untuk mengambil sepeda motornya dan langsung melaju ke Fakultas Kedokteran Unand. Tapi betapa kagetnya si Satria, di depan kampusnya sudah ada lagi kakak si Anisa yang bernama Firman yang juga datang dengan dua temannya, si Bodet dan Panjul.
"Hei Satria, kamu ku ingatkan ya, jangan kamu ganggu lagi adikku Anisa," kata Firman sembari mengacungkan tangannya.
Diperlakuan seperti itu, si Satria hanya diam dan bahkan mau langsung berjalan menuju ke arah perpustakaan.
"Hei Satria, kamu tuli ya," kata Firman kakak Anisa.
Ditegur dengan bahasa tuli tersebut, si Satria juga tak memperdulikannya dan langsung berjalan. Tapi langkahnya terhenti, karena si Bodet teman si Firman telah menghadangnya.
"Hei, kamu tuli ya, orang bicara tak kamu perdulikan," kata si Bodet sembari memegang krah bajunya.
Diperlakukan seperti itu, si Staria juga diam dan hanya berdiri terpaku bagaikan patung dengan sorotan mata melihat kepada kakak Anisa si Firman.
TIBA-Tiba, si Panjul langsung saja memukul si Satria dan menendang, sehingga membuat kondisinya terjatuh dan berusaha untuk berdiri. Tapi, begitu baru saja berdiri, langusng pula si Bodet melayangkan tangannya, sehingga bibir Satria mengeluarkan darah dari bibirnya.
Tapi perkelahian di ruang fakultas kedokteran itu terhenti, karena datang tiga orang satpam yang langsung menghampiri Satria dan meminta si Panjul dan si Bodet menghentikan pukulannya.
Sementara si Firman kakak Anisa, begitu melihat ada tiga anggota satpam, langsung pula meminta kedua temannya keluar dan pergi. Tapi, langkah si Firman terhenti, karena datang lagi dua anggota satpam yang memintanya menyelesaikan masalahnya di pos satpam.
"Hei satpam, kamu jangan macam-macam ya, kamu tahu siapa saya," kata Firman dengan nada tinggi.
"Saya tahu, kalau bapak kamu perwira polisi, tapi kamu tak bisa berbuat seenaknya di kampus ini, ini wilayah tugas saya," kata satpam yang bernama Ahmadi. (Bersambung)
