GELISAH dan GALAU. Begitulah kira-kira perasaan hati setiap orangtua yang hidup dalam penderitaan kemiskinan menghadapi suasana menjelang Hari Raya Idil Fitri. Kegelisahan dan kegalauan itu muncul karena memikirkan keinginan  si buah hati yang meminta dibelikan baju baru, celana baru dan sepatu baru.

Siapapun dia, yang pasti hasrat hati dan keinginanya untuk membelikan permintaan anak sibuah hatinya itu tetap ada dan membara, tetapi apadaya, kemampuan keungannya tidak mendukung. Soalnya, jangankan untuk membelikan baju, selana dan sepatu baru, untuk makan dan berbuka puasa saja mereka sudah kalimpasingan memikirkannya.

Yang ironisnya, meskipun ada pekerjaan, baik sebagai buruh, kuli, tukang ojek, namun uang yang diperolehnya tak mencukupi untuk kebutuhan makan sehari-hari. Kenapa? Karena sampai saat sekarang masih ada saja pengusahan kecil yang tega-teganya membayar upah diluar batas kemanusian, atau di bawah upah maksimun yang telah ditetapkan Gubernur Sumbar, yakni Rp 1.615.000.

Bagi masyarakat yang punya sanak family yang kaya, masih ada harapan anak si buah hatinya akan dibantu, adik, kakak atau orangtunya sendiri. Tapi, bagi orangtua yang tak punya sanak family yang kaya, hanya bisa berkeluh kesah dengan deraian air mata setiap anak sibuah hatinya meminta dibelikan baju, selana dan sepatu baru untuk berlebaran.

Kita pun tak bisa menyalahkan siapa-siapa dalam menghadapi suasana menjelang lebaran atau Hari Raya Idil Fitri. Siapapun dia, pasti akan menerima permintaan dari anak sibuah hatinya, yang minta dibelikan baju, celana dan sepatu baru. Soalnya, sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat, bahwa setiap hari raya, semua anaknya di hari kemenangan tersebut tampil dengan penampilan serba baru.

Selain masalah pakaian, masalah membuat kue lebaran juga sudah menjadi tradisi secara turun temurun, kalau setiap mau Hari Raya Idil Fitri selalu membuat berbagai macam kue lebaran, sebagai sebuah gengsi dan harga diri.

Yang memilukan lagi, meskipun ada THR (Tunjangan Hari Raya), itu pun nilainya masih memprihatinkan, karena nilai uang THR jauh dari kebutuhan berhari raya. Bahkan, hingga  kini masih ada juga sebuah perusahaan yang tak peduli dengan THR.

Sebagai orang awam, kita tentu hanya bisa menyarankan kepada para  penguasa di daerah ini, agar memikirkan dan mencarikan solusinya, bagaimana  meringankan penderitaan masyarakat yang miskin dengan tujuan  mereka bisa bergembira di hari kemenangan nanti. (Penulis adalah wartawan tabloid bijak).

google+

linkedin